Wednesday, April 8, 2015
Monday, March 23, 2015
KARYA SENI OLD MASTER DENGAN KEBANGGAAN DAN KESENGSARAANNYA
KARYA SENI OLD
MASTER DENGAN KEBANGGAAN DAN KESENGSARAANNYA
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh
hendrotan
23
Maret 2015, 15.25
1. ASLI ATAU ASELIUT ( PALSU )
Utk mengukuhkan ke ASLI an sebuah lukisan atau karya seni Old Master yang harganya sudah melangit ada beberapa cara dan yang paling valid adalah PROVENANCE ( ini merupakan keabsahan identitas karya seni tsb., kalau manusia macam surat kelahiran , kk , info tetangga sekampung dan rt , rw, lurah lingkungan, ijasah sekolah sd, smp , sma dan seterusnya termasuk keterangan guru pendidik + teman teman sekolahnya , keterangan dokter dan keluarga yg merawatnya , ktp , sim dll. juga mirip dengan operasi Densus 88 dalam melacak dan mengusut anggota teroris ).
Perlu diketahui masalah di OHD Museum sebenarnya simple dan tidak perlu lahir PPSI jikalau OHD mau membuka identitas atau dg kata lain menerangkan provenance lukisan yg dipamerkan dan yg diragukan tsb . Ternyata OHD tidak berkenan , itu saja .
Selang waktu justru PPSI membuat buku berjudul JEJAK LUKISAN PALSU INDONESIA tetapi menyisipkan lukisan old master ( koleksi ketua umum, ketua penasehat, pengurus PPSI dan donatur pembuatan buku ) YANG TIDAK MEMILIKI DATA PROVENIENCE PULA , ini yg membuat saya dan kawan kawan kurator jadi meradang , sepihak kalian meragukan lukisan old masternya OHD Museum , NAMUN kalian melakukan hal yg sama dan serupa, ambigu bingit elo dan ente ini.
Mengingat para old master wafatnya masih dlm kurun waktu 30 tahunan , jadi apa sih sulitnya mengurut provenance lukisan tsb. Kalau pun ada beberapa infonya lobang tidak nyambung , masih bisa disupport dari pembuktian yg lain , contoh test forensik , ulasan para ahli setidaknya 5 orang ) pada estetik visual yg menghasilkan " roso / geget / getaran / blink " , estetika pada riwayat eksplorasi dan karakter personal sang seniman. Dan ini membutuhkan keseriusan dan ketekunan pemilik lukisan ( atau diserahkan kelembaga macam museum old master yg kredibel , sayangnya yg kridibel ini di INDONESIA BELUM ADA ).
Menurut saya , suara pembenaran ( penilaian ) asli atau aseliut ( palsu ) sebuah lukisan old master tidak bisa dikatakan (diklaim ) oleh pemiliknya. SeHarusnya oleh lembaga penelitian karya old master yg kridibel , karena mereka adalah tim kerja yg profesional , indepeden dan dedikatif.
Seperti kita ketahui kejadian akal mengakali provenance yang kerap dilakukan oleh art dealer – broker tersebut bukan hal yang baru di dunia pasar seni rupa . TETAPI saya percaya dg tekad menelusuri yang membaja ( dg kecermatan tinggi ) satu persatu dirunut dari awal maka akan terkuak bodongnya , kejahatan pasti meninggalkan satu dua belang / jejak yg belum sempat tertutupi .
Asli atau aseliut ( palsu ) tergantung kevalidan provenancenya.
2. UANG MENDENDANGKAN KEBOHONGAN
Selalu saja dimana saja di Indonesia ini mereka art broker , art dealer bahkan pedagang akan berkilah : Buat apa atau tidak penting atau bisa dinomer duakan provenance itu .
MENGAPA MEREKA BERBUAT BEGITU ? Karena barang mereka tidak memiliki keotentikan runut asal usul atau asal dari YG HARUS DIEMPUNYAI pada SETIAP KARYA SENI OLD MASTER .
Selain itu mereka berperisai dg klaim " aku sangat mengerti karena mendalami total loh , kan sudah sekian puluh tahun mempelajari " , lebih lucu lagi ada yg gembar gembor " Jam terbangku cukup " .
Siapa pun yg berkiprah di pasar seni rupa lokal maupun internasional mengetahui dg baik bahwa utk membeli lukisan old master yg harganya selangit harus mendapatkan data authentic Provenance lukisan atau karya seni tsb. Selain itu lulus pengamatan estetik peminatnya ( atau konsultannya ) dan pengetahuan pada estetika senimannya .
Apabila peminat hanya mengandalkan pengalaman estetik visual yg melahirkan blink, geget, getaran atau roso SEMATA , kalau tidak didampingi pengetahuan estetika pada riwayat eksplorasi dan karakter personal sang old master juga dilengkapi VALIDITY PROVENANCE atas karya seni tsb. maka jangan heran kalau banyak dari mereka telah menjadi korban barang palsu .
Biasanya buyer Di PASAR ( art dealer / broker , pedagang ) yg terkecoh akan mencari mangsa utk estafet penderitaannya , dg alasan aneka macam utk mengecilkan arti provenance itu sendiri.
Ah sudahlah ...
Tuesday, October 28, 2014
PPSI MEMBUNGKUS RISIKO
PPSI MEMBUNGKUS RISIKO
Oleh : hendrotan
29 Oktober 2014, jam 13.30
Ditahun
2006 , seorang kolektor Inggris ,melelang koleksi lukisannya yg berjudul THE
CARDSHARPS ke SOTHEBY'S , lukisan abad ke 15 konon adalah karya agung seniman
Italy Caravaggio , karya tsb oleh auction house SOTHEBY'S dinyatakan atau
dikatagorikan LUKISAN PALSU , dan terjual lelang diharga 42 ribu pound sterling
.
Menurut
SOTHEBY'S , mereka telah mendapat konfirmasi dari balai penelitian khusus ,
kurator dan para ahlinya , yg mana lukisan tsb mirip dg lukisan koleksinya galeri Kambly diTexas Amrik . berakhir dinyatakan
sebagai lukisan tiruan yang dilakukan oleh murid Caravaggio .
Kemudian
pemenang lelang -- kolektor Inggris pula yg menelusuri ulang dg ulet dan cermat
mendapat pengakuhan dari yg berkompetensi bahwa lukisan tsb ASLI dan bernilai
harga pasar 10 juta pound sterling .
Meledaklah
amarahnya kolektor penjual dan mengajukan gugatan dan tuntutan kepada auction
house SOTHEBY'S .
MEMBACA
CERITA INI , SAYA TERINGAT KOLEKSI LUKISAN OLD MASTER DI MUSEUM OHD MAGELANG
YANG DIRAGUKAN BAHKAN DIKATAKAN PALSU OLEH PPSI , KALAU SATU HARI MUSEUM OHD
BISA MEMBUKTIKAN KEASLIAN LUKISAN TSB. MAKA SIAP SIAPLAH PPSI DIGUGAT DAN
DITUNTUT OLEH MUSEUM OHD .
KIRANYA
PPSI AKAN MEMBUNGKUS RISIKO BERLAMA LAMA, BUKANKAH BEGITU ?
---------- 00
----------
Sunday, May 18, 2014
PPSI ITU SEKUMPULAN ORANG IDEALIS ATAU MUNAFIK ?
PPSI ITU SEKUMPULAN ORANG IDEALIS ATAU MUNAFIK ?
Tulisan ini telah diposting pada tgl. 8 Juli 2013 dengan tema :
PPSI, OHD dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PPSI, OHD dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia
Oleh: hendrotan
Ketika kamu berhadapan dengan musuhmu,
taklukkan mereka dengan cinta- Mahatma Gandhi
Sejak April 2012 awan hitam –– baca gonjang-ganjing lukisan yang diragukan keasliannya ( ? ) karya para maestro Hendra Gunawan, S.Sudjojono dan Soedibio koleksi MUSEUM OHD Magelang –– yang menggelayut di atas langit seni rupa Indonesia belum juga beranjak pergi. Bahkan sekelompok kolektor, art broker, pemain pasar dan pemerhati senirupa yang berhimpun dalam wadah PPSI ( Perkumpulan Pecinta Seni rupa Indonesia ), yang lahir di tengah suasana awan hitam itu, mencoba terus mengawal agar terkuak ”kebenaran” di baliknya atau setidaknya mereka ingin mengabdikan diri pada tanah air dengan meletakan peradaban seni rupa Indonesia ditempat yang benar dan mereka berani berkata ”tidak” bagi lukisan maestro yang palsu.
Sebagai pemilik galeri, memang saya pribadi meragukan keaslian beberapa lukisan maestro koleksi OHD Museum, seperti yang tergambar di dalam buku pameran museumnya. Sikap saya ini secara gamblang sudah saya kemukakan dalam tulisan “Buruk Rupa Seni Rupa Indonesia” di Majalah Visual Arts edisi September–Oktober 2012.
Namun bagi saya OHD (Oei Hong Djien) tetaplah sang pecinta seni rupa Indonesia kelas wahid yang pernah berjasa sebagai penggerak pasar seni rupa Indonesia di dalam negeri dan Asia Tenggara. Betapa pun dia telah melakukan keteledoran yang fatal, sehingga mencoreng nama baiknya sebagai kolektor seni nomor satu di Asia Tenggara, karena hingga saat ini dia tidak mau membeberkan provenance –– catatan atau urutan rinci tentang sumber asal pembeliannya atau riwayat karya sampai ketangannya –– dalam hal ini provenance lukisan Hendra Gunawan , S.Sudjojono dan Soedibio yang diragukan itu.
Dengan demikian, dalam menyikapi kasus OHD tersebut, saya kira kita tidak hanya pantas meragukan beberapa persoalan berikut ini. Pertama, dari segi estetika ( rasa ) dan sudut pandang artistik kekhasan goresan pada lukisan yang diragukan terlihat tidak sesuai atau ada kelainan yang terkesan aneh, juga dalam hal warna tampak jauh dari kematangan. Semua ini berdasarkan perbandingan dengan lukisan–lukisan semasa karya para maestro tersebut yang terdapat dalam koleksi Taman Budaya Denpasar (art center), koleksi Museum Sejarah Jakarta, beberapa koleksi Ciputra, satu koleksi Jusuf Wanandi, dan tidak banyak (sedikit sekali ) berada di rumah para kolektor terpercaya lainnya. Kedua, ketidakwajaran ukuran dan bahannya, mengingat kelangkaan material lukisan pada masa itu.
Bahkan lebih dari substansi keraguan itu, demi kepentingan senirupa Indonesia PPSI sebagai lembaga sebaiknya mengajak Oei Hong Djien bersedia duduk bersama, dan melakukan penelitian seksama pada keraguan tersebut. Dihadapan masyarakat senirupa Indonesia tidak boleh ada orang atau lembaga –– sekali pun OHD Museum –– yang merasa memiliki privilese enggan menerangkan asal usul lukisan tersebut, walau dengan alasan apa pun.
Dengan keraguan–keraguan itu sudah sewajarnya kita bersikap kritis yang konsisten, memiliki kepercayaan diri yang kompeten. Dan sehubungan dengan penerbitan buku PPSI ini, maka buku tersebut seharusnya menjadi kumpulan catatan atau penampung beda pendapat yang kritis dan bermutu agar memberi peran dan semacam ”matahari” dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dan bukan asal menampang konsensus penggalangan kecemburuan serta penonjolan ego / syahwat narsis para pihak yang anti OHD, sebab hal itu tidak akan menemukan kebenaran, bahkan sebaliknya hanya mencederai rasa keadilan khalayak seni di Indonesia, khususnya di Magelang dan sebagian di Jogjakarta. Disinilah kebijakan dan keteladanan PPSI diam-diam diuji.
Karena itulah jika buku ini merupakan upaya ke arah sikap kritis yang dapat mencerahkan atau mencerdaskan masyarakat senirupa Indonesia, maka setiap orang atau pihak yang terlibat dalam penerbitan harus siap membuka diri dengan dialog atau berkomunikasi. Lebih jauh dari itu, sudah barang tentu, kalau kita berani mengkritik, maka siapkan diri juga untuk dikritik; kalau kita gencar menuntut OHD ”buka kartu”, maka sudah seharusnya pula ( kita pun ) para art dealer ( broker ) atau pihak balai lelang berani ” buka kartu ”, termasuk kolektor / investor yang jadi korban para broker pun mau buka mulut, khususnya saat menerima pertanyaan hingga teguran pada autentisitas berikut provenance karya-karya pelukis maestro lainnya. Sebutlah, misalnya, sebagian lukisan Nashar yang termaktub dalam buku yang diterbitkan oleh ASPI dan editor Agus Dermawan T. disponsori hendrotan, juga beberapa lukisan pada buku Lee Man Fong dan buku Affandi yang terbitan sebelum prahara OHD Museum maupun ( banyak ) lukisan maestro yang pernah dijual belikan secara private sale atau pelelangan di pelbagai acara auction house.
Saya ingin berkata, alangkah mulia bila PPSI dan orang-orang yang ingin melibatkan diri ”bersih-bersih”, mereka mau ”buka kartu” kepada masyarakat, dengan memberikan data dan penjelasan bagaimana / darimana riwayat karya maestro koleksinya. Di negeri ini, sering kali kita melihat, bagaimana orang-orang getol sekali membersihkan ”kotoran” dengan ”lap yang kotor”. Dan lap kotor itu kalau dirunut, berasal dari tangan yang kotor pula; Itu sebabnya, ”kotoran-kotoran” Indonesia, sampai hari ini sulit diberantas.
Kembali ke kasus OHD yang dipersoalkan dalam buku yang akan diterbitkan tersebut, ini menjadikan sebuah pelajaran yang tak kalah penting, betapa dunia seni rupa Indonesia hari ini sangat membutuhkan catatan sejarah yang jujur, buku-buku sejarah seni rupa yang lengkap, yang deretan perupa / seniman dan karya kanonnya disetujui bersama oleh para kurator dan tokoh akademisi yang kredibel. Disini kita bisa mempertanyakan sejauh mana peran serta lembaga perguruan tinggi seni, misalnya ISI, ITB, IKJ dan lain-lain yang selama ini bertanggungjawab mendidik dan melahirkan para peneliti, hingga pemikir seni.
Selain itu juga diperlukan keberadaan laboratorium penelitian seni rupa yang modern dan canggih. Yang hasil analisisnya tidak tergantung pada jari telunjuk atau ibu jari atau mulut kotornya broker dan team penilai balai lelang, tapi pada analisis ilmiah atau kajian kritis yang independen dan dilakukan oleh para ahli yang lulusan perguruan tinggi S2 dan S3 di Indonesia atau pun di negara bule disertai ragam reputasinya. Kita berharap PPSI mau dan mampu melakukan tugas mulia ini demi kecintaannya pada ibu pertiwi, karena itu PPSI akan menjadi pejuang yang luhur bagi seni rupa Indonesia di setiap langkah yang ia tempuh. Perlu dicamkan bahwa sungguh tidak diharapkan keberadaan PPSI jika hanya untuk kasusnya MUSEUM OHD.
Di penghujung kata, semoga dengan terbitnya buku PPSI ini, selain dapat mengusir awan hitam yang tumpuk menumpuk membujur di cakrawala senirupa Indonesia, juga dapat menguak kebenaran di baliknya. Kalau pun tidak berhasil menguak kebenaran, niscaya telah memberi pembelajaran kebenaran itu sendiri, buku ini akan menjadi dentingan genta yang tak berjeda menggema di benak siapa pun pelaku seni rupa Indonesia. Pesan Mahatma Gandhi diawal tulisan ini patut kita jiwai bersama. Sebagai pelengkap satu lagi pesan Gandhi yang baik untuk kita renungkan adalah, ” Kesalahan tidak akan menjadi kebenaran walau berulang kali diumumkan. Sebaliknya, kebenaran tidak akan jadi kesalahan walau tak seorang pun mengetahuinya ” , dan ini kata filsuf Sun tze ” Kebenaran takkan dapat disatukan dengan kesalahan, walau itu sekadar kealpaan.”
Bumi Surabaya, 08 Juli 2013. Jam 18.30
----------------------oOo-----------------------
PPSI, OHD and the Future of Indonesian Art
By: hendrotan
Whenever you are confronted with an opponent, conquer him with love - Mahatma Gandhi
Since April 2012 the black clouds –– the disturbance over some paintings by Indonesian master painters Hendra Gunawan, S. Sudjojono, and Soedibio in the OHD Museum’s collections in Magelang –– haven’t left the sky of Indonesian art yet. A number of art collectors, art broker, market player and observers even grouped together in an organization called PPSI (Perkumpulan Pecinta Seni rupa Indonesia, meaning literally ”Association of Indonesian Art Lovers”), which was born amid the atmosphere of disturbance, keep trying to guard the process of uncovering the ”truth” about the matter, or at least they intend to serve the country by positioning Indonesian ”civilization” concerning art on its proper place, and they dare to say ”no” to faked maestro pieces.
Personally I as a gallery owner doubt the authenticity of some maestro paintings in the collections of OHD Museum as found in an exhibition book of the Museum. I have already stated this position clearly in my essay “The Ugly Face of Indonesian Art” in Visual Arts Magazine of the September–October 2012 edition.
Yet for me OHD (Oei Hong Djien) remains a most important lover of Indonesian art with his great contribution of activating the market for Indonesian art at home and in Southeast Asia. This is despite his blunder, blemishing his good name as a number one art collector in Southeast Asia, of not letting us access the provenance of the paintings said to be by Hendra Gunawan, S. Sudjojono and Soedibio the authenticity of which is doubted.
Regarding this case of OHD I think we do not only have reasonable doubts about the following. First, in aesthetic and artistic aspects the characters of the brushing and scratching of the paintings seem inconsistent or strangely different while the coloring gives the impression of grave immaturity. I make this remark on the basis of comparison between the works concerned and the typical works of the master painters in corresponding periods kept in the collections of Denpasar Art Center, Jakarta Museum of History, Ciputra, Jusuf Wanandi, and, in a very small number, in the homes of other credible collectors. Second, the sizes and materials for making the paintings are questionable considering the scarcity of such materials back then.
Even more important than the doubts per se, for the interest of Indonesian art the PPSI organization should invite Oei Hong Djien to sit together and make joint investigation into the doubted matters. Before the Indonesian art community not any person and not any institution – not even OHD Museum – may feel, for whatever reasons, to have the privilege of not giving explanation about where those paintings come from.
Being uncertain, it is only natural that we become consistently critical and competently confident at the same time. And in connection with the publication of a book by PPSI, it should represent a collection of notes and critical, reasoned disagreements so that the book may take the role of ”the sun” with respect to he history of Indonesian art instead of just being a means to show off shared envy and grudges as well as narcissistic tendency of those who are against OHD. In the latter case, instead of discovering and upholding what’s true, we would only hurt the sense of justice on the part of Indonesian art stakeholders in Magelang particularly and to some extent in Jogjakarta. Here lies a test of PPSI’s wisdom and exemplarity.
So if the book represents attempts to develop a critical perspective that may enlighten to open Indonesian art stakeholders everyone and every party involved in the publication ought to be ready to open his/her mind through dialogues or to really communicate. Furthermore, naturally, if we dare to criticize others we ought to be ready to be criticized; if we insistently ask OHD to ”lay his cards on the table”, we too, art dealers (brokers) or auction houses have to dare to do the same and collectors/investors falling victims to certain brokers ought to speak up, particularly when asked or reproached about the authenticity and provenance of other works of maestros. Say, for example, some of Nashar’s works published in a book by ASPI, edited Agus Dermawan T. and sponsored by hendrotan, and some paintings in books on Lee Man Fong and Affandi prior to the OHD Museum as well as (a lot of) other maestros ever sold and bought in private sales and auctions in various events at auction houses.
I want to say how estimable it will be if PPSI and those who intend to take part in the ”clean-up” are willing to ”lay down their cards on the table” for all to see by giving relevant data and explanation about the acquirement of the maestros in their collections. Here in this country we very frequently how people very eagerly try to clean up things from ”dirt” by using ”dirty dusters. And in turn the dirty dusters are provided by dirty hands too. That’s why until today it’s been hard to clean up Indonesia from ”dirt”.
Back to the case of OHD, what is discussed in the book to publish will give us an important lesson of how the world of Indonesian art today badly needs historical notes that are honest and comprehensive art history books that contain names of artists along with their canon works justified by credible curators and academic figures. At this point we may ask questions about the supposed roles of higher learning institutions for the arts such as ISI (Indonesian Institute of the Arts), ITB (Bandung Institute of Technology), and IKJ (Jakarta Arts Institute) responsible for educating and producing researchers and thinkers of the arts.
We also need modern and sophisticated laboratories to support studies and research in art. Then results of studies and analyses shall not depend on the index fingers, thumbs and assessment teams that work for auction houses. Instead, they’ll be the outcomes of independent academic analyses and critical studies done by reputable experts holding the master or even doctorate degree acquired from universities at home or abroad. Let’s hope that PPSI association will be willing and able to carry out such honorable task in the name of love for the country, based on which PPSI will be ever heroically championing Indonesian art in every step it takes. It needs to be borne well in mind that the association’s raison d’être should not be just the OHD Museum case.
Closing this note, I hope that the publication of PPSI book could remove the black clouds piling over the horizon of Indonesian art thus revealing the truth hidden as yet. Otherwise, it may at least introduce points to learn about truths to seek and in this regard the book may represent the unbroken tolling of a bell to echo in the head of anyone actively involved in Indonesian art. It will be good for us to internalize Mahatma Gandhi’s message I quote in opening this essay. As a complement here is again a quote from Gandhi: ”An error does not become truth by reason of multiplied propagation, nor does truth become error because nobody sees it" while the philosopher Sun tzu says that truth cannot be integrated with falseness even if it is just a mistake.”
Bumi Surabaya, 08 Juli 2013. Jam 18.30
Saturday, May 10, 2014
BUKU ZEBRA ?
BUKU ZEBRA ?
-----------------------
Oleh hendrotan
Tgl. 10 Mei 2014, jam 15.15
-----------------------
Oleh hendrotan
Tgl. 10 Mei 2014, jam 15.15
YG berkompetensi menentukan ASLI sebuah lukisan OLD MASTER INDONESIA itu siapa sebenarnya ?
Kalau jawabannya boleh sesama pedagang atau pemain pasar atau investor atau kolektor bahkan Art broker dengan reputasinya yang meragukan mejudgement keaslian lukisan old master tersebut, pertanyaan besarnya adalah : Seni Rupa Indonesia mau dibawa kemana ?. Sungguh dikhawatirkan demi kepentingan pasar akan mewujudkan kesalahan ulang alik yang semakin mengkristal saja dan itu akan mencederai Seni Rupa Indonesia.
Dicontohkan :
Pedagang “Kucing Hitam” membuat buku old master Indonesia dengan karya lukisannya, kemudian dibantah oleh sekumpulan pedagang “Zebra” dengan menerbitkan buku serupa ( lukisan berbeda ) dan demikian seterusnya.
Didalam hal ini sepertinya para intelektual atau pemangku kepentingan Seni Rupa Indonesia dari Dosen, Kurator, Kritikus, Seniman dan Pengamat seni jauh jauh hari sudah mengambil sikap diam dan menjaga jarak, karena mereka mengira ( memperkirakan ) ini merupakan perebutan eksistensi antar pedagang untuk kepentingan modal ekonomi* mereka sendiri.
Kalau mau bicara mengenai idealisme atau kewarasan berlogika Kan seharusnya yang berkompeten memutuskan ASLI sebuah karya lukis old master adalah Lembaga Penelitian Karya Old Master Indonesia yang kredibel, bukankah begitu ?
Tidak ada ucapan selamat bagimu pedagang “ Zebra “.
Sekian saja.
* Penjelasan modal ekonomi :
Harga sebuah lukisan Old Master S. Sudjojono ukuran sedang, baru baru ini terjual di Balai
Lelang Sotheby’s seharga + 80 Milyard. Sedangkan rekor pasar di balai lelang untuk lukisan
Lee Man Fong ukuran sedang, terjual seharga + 60 Milyard.
Kalau jawabannya boleh sesama pedagang atau pemain pasar atau investor atau kolektor bahkan Art broker dengan reputasinya yang meragukan mejudgement keaslian lukisan old master tersebut, pertanyaan besarnya adalah : Seni Rupa Indonesia mau dibawa kemana ?. Sungguh dikhawatirkan demi kepentingan pasar akan mewujudkan kesalahan ulang alik yang semakin mengkristal saja dan itu akan mencederai Seni Rupa Indonesia.
Dicontohkan :
Pedagang “Kucing Hitam” membuat buku old master Indonesia dengan karya lukisannya, kemudian dibantah oleh sekumpulan pedagang “Zebra” dengan menerbitkan buku serupa ( lukisan berbeda ) dan demikian seterusnya.
Didalam hal ini sepertinya para intelektual atau pemangku kepentingan Seni Rupa Indonesia dari Dosen, Kurator, Kritikus, Seniman dan Pengamat seni jauh jauh hari sudah mengambil sikap diam dan menjaga jarak, karena mereka mengira ( memperkirakan ) ini merupakan perebutan eksistensi antar pedagang untuk kepentingan modal ekonomi* mereka sendiri.
Kalau mau bicara mengenai idealisme atau kewarasan berlogika Kan seharusnya yang berkompeten memutuskan ASLI sebuah karya lukis old master adalah Lembaga Penelitian Karya Old Master Indonesia yang kredibel, bukankah begitu ?
Tidak ada ucapan selamat bagimu pedagang “ Zebra “.
Sekian saja.
* Penjelasan modal ekonomi :
Harga sebuah lukisan Old Master S. Sudjojono ukuran sedang, baru baru ini terjual di Balai
Lelang Sotheby’s seharga + 80 Milyard. Sedangkan rekor pasar di balai lelang untuk lukisan
Lee Man Fong ukuran sedang, terjual seharga + 60 Milyard.
Saturday, August 24, 2013
PAGES FROM A DIARY / SOBEKAN BUKU HARIAN
PAGES FROM A DIARY
Thursday night, 8th of August 2013
By hendrotan
By hendrotan
IN ADDITION TO BEING UNQUALIFIED,
ARTIST MANAGERS WE HAVE ARE ALSO TOO PRAGMATIC AND OPPORTUNISTIC. THEY HAVE
TAKEN THEIR TO JUST ART MARKET WITHOUT TRYING TO BRING THEM TO ART PROJECTS,
BIENNALES AND MUSEUMS THAT REFLECT SIGNIFICANT ACTIVITIES AND MOVEMENTS IN
INTERNATIONAL ART. WHY?
Lately
Indonesian art market has been upset by some artist managers who tend to
deceive collectors and investors in this country the rich and super-rich ones
in particular.
The
story begins with three Manager Artists and an EO-cum-artist manager having a
meeting in a closed room, holding each other tight, and lamenting the crumbling
market of contemporary art. They talk, share opinions and they realize well
that the works of their artists already in the hands of numerous collectors and
investors since before the 2007 boom when prices were low and through the times
of wildly rocketing prices after 2007. And these four people previously sad and
worried seem to find resolution 4 hours later – a sort of magic shortcut or
breakthrough. So they happily and expectantly make the conclusion that if
exhibition prices in Singapore
and Hong Kong Art Fairs are set very high for jummy-sized works, and stated as sold, it is expected that it shall
please collectors and investors having in their stock the works of those
concerned. Then those collectors and investors will have more confidence that
the auction houses in Hong Kong and Singapore will always accept the
works of their artists into the prestigious lots of auctions to come.
Now
what’s left to do is elaborating the main stratagem for the Art Fair, inventing
names of “made-up” buyers and making everything sound reasonable at once
untraceable. Well, why not borrowing the names of certain close relatives
living in New York, London, Hong Kong, Taipei, Tokyo, Kuala Lumpur, and even,
if necessary, just say that the buyers are White or Japanese collectors who do
not want their names revealed.
Then
in the next auction they will prepare money for the buying back coupled with
transactions (artificial and neatly done) at private sale market in order to
revitalize the market for their established artists just like dyeing old shabby
clothes anew.
Made-up
market prices are achieved by three ways: Exhibition sale (at the art fair),
Auction sale (at the auction) and Private sale (direct transaction involving
artists, managers, art dealers, art galleries outside exhibitions, and perhaps
brokers). We may ask whether such stratagems will really work as they expect. I
think in the past, before 2007, they would work almost perfectly. Yet today, as
all information about art market is becoming ever transparent, collectors,
investors down to their children and grandchildren can easily access relevant
information about art market and discourses on art and its market through
online media and social network, making use of various references available
there, portals or online sources such as Wikipedia or Encyclopedia.com as well
as blogs, facebook, twitter, foursquare, instagram, flickr, linkedin, tumblr,
and raddit. So it is predictable that such stratagems of theirs will meet with
total failure.
The
failure represents the tip of an iceberg with the main root digs into a crisis
in managerial mindset potentially destructive to the artists concerned. Why?
For what reason? In my opinion the most basic reason is that the three artist
managers plus one EO have committed an act of levity. They take it lightly the action of setting
artificial price rates for their artists’ works without considering that
collectors and investors are getting increasingly critical and sharp. They ––
collectors and investors –– actively take part in art talks on art market in
community circles initiated by art observers and critics so it is easy to
predict that eventually what those artist managers and EO expect will not come
true. The point is: It will harm the artists who entrust themselves totally to
those managers and the EO; the artists’ names and repute can even vanish with
no trace from Indonesian art market and its entire zones as if swallowed
suddenly by a sinkhole – their future will simply disappear.
But
those involved often defend themselves, and some of their curator partners
defend them too on the basis of the argument that “market mechanism and its
dynamic require stratagems and tactics”. In making such excuse what’s reflected
is the sinking of the awareness that a manager is a professional representative
supposed to have ethical sensitivity and extrinsic as well as intrinsic dignity
with respect to profession accredited and trusted by the Indonesian art world.
Moreover,
those artist managers and the double-functioned EO are part of a circle of
business people and economists of artwork commodity who should transmit
positive signals that may reinforce market’s trust instead of intensifying
deceit trickily labeled as device or tactic.
At
this point is there still anyone asking the question: if ‘this’ is not right
and ‘that’ is also not right, then ...
what’s the right thing to do? Or: what should the three artist managers and one
double-function EO do? The answer can be found in the next note from the diary.
–––––– o
––––––
Tuesday, 13th of August 2013
IN THE CURRENT ERA OF OPEN
INFORMATION THANKS TO SOPHISTICATED INFORMATICS AND TELECOMMUNICATIONS ART
COLLECTORS AND INVESTORS IN ART PRODUCTS ARE INCREASINGLY CAUTIOUS AND
INSIGHTFUL. THEY BECOME MORE AND MORE RELUCTANT TO SPEND THEIR MONEY OR INVEST
THEIR FUND ON AND IN WORKS OF
ESTABLISHED ARTISTS WHO ARE NOT YET RECOGNIZED BY MAJOR ART PROJECTS, BIENNALES
OR MUSEUMS ICONIC FOR DEVELOPMENTS IN INTERNATIONAL ART. ESTABLISHED ARTISTS
PREVIOUSLY GETTING CONFIRMATION FROM JUST THE ART MARKET WILL BE ILL FATED,
i.e. THEY’LL BE IGNORED BY A NEW ERA FILLED WITH MASSIVE INSIGHT.
On
the rocketing price of artwork in international market I don’t share the
opinion of our artist managers who remain controversial till today. To my
observation there are “more significant” issues behind the rocketing price, which
implies that market mechanism is not the one and only factor.
Those
“more significant issues” are inseparable from the formation of a social system
in the international art world that necessitates
artists to participate in, or to ever strive to be among invitees to “major”
Art projects¹, Biennales and Museums² in various international events in art such as the
Venice Biennale (Giardini), Sao Paulo Biennale, Documenta, MoMA museum, Guggenheim Museum, Kunst Museum,
and Tate Modern Art Museum. Because the
curatorial teams of such Art projects, Biennales and Museums consist of
prominent senior intellectuals comprising critics, writers, journalists, museum
directors and curators with indubitable reputes and credible authority in the
realm of art and culture, the names,
standings and reputations of artists
consistently invited to such events will increase to respected positions in the
international art discourse.
In
accordance with it trust in the artists’ standings and reputations will affect
market, and their works will be eagerly hunted by international collectors and
business people so that the rocketing prices of their works are predictable and
expected. This rise in price can be assumed to spring from trust in the
intrinsic values of works acknowledged by respectable institutions. In turn the
acceptance by those institutions levers the economic values of the works;
people then believe in those values as well as the control over the belief.
It
is obvious and warranted that an artist’s degree of artistry, reputation and
image as acknowledged by international art community do make up a factor. So we can conclude that the rise of the
nominal value of artwork rests on its intrinsic value that is impressive as
demonstrated and elucidated in art project, biennale and museum exhibitions
that represent major international art events. For established artists we now
have this is the only thing that matters, not to say the only possible
solution. This should actually be in the credo of our established artists in pursuing
their road of glory.
Here
I have already made the statement that the belief that the price of artwork and
its rises can be controlled through market devices and tactics is very wrong.
And I want to answer some market people who say that that currently the art
fair levels the importance and influence of art projects and biennales that
such opinion of theirs is not only mistaken
but also misleading because the effects of discourse will not be the
same with those of the actual market.
Art
projects and biennales expose artworks on the basis of artists’ advanced
thinking coupled with exploration/elaboration of the elements and mystery of
art as driven by some intrinsic and perhaps iconic motivation (but not for
selling and buying). As for the art fair or art market, it is where to offer
artworks, at least trendy ones of them in a given period, as items for sale;
its energetic activation is extrinsic to artworks per se and appreciation- and
profit-oriented.
To
quote Jim Supangkat, “In the modern perspective, fundamental things concerning
the values of art are related with the conception of the connection between the
human being and reality according to subject-object relationship. Here the
subject is the human being, namely a thinking being that has power, and the
object is the material aspect of reality over which the subject has power.
Artworks are objects but they are not ordinary ones. Artworks are objects that
contain the subject-as-manifested in the forms of artworks as tokens of human’s
power – which causes artworks to be like objects having their own lives. These
“lives” are the intrinsic values of works of art.
From
that point of view since the early 20th century, modern thoughts on
art – art criticism, theories of art and historical studies on art – which have
been explicated and transmitted through massive publication (reaching millions
of book titles) confirm the weight of the intrinsic values of artworks. As
museums assess the nominal values of their artwork collections the weight of their
intrinsic values make their nominal values high. Therefore it has been since
the early twentieth century, the prices of artworks, particularly those in
museum collections, have been high”. I find here Jim Supangkat drawing logical
conclusions and offering them consistently, systematically and very remarkably.
Now
I’d like to answer the question on what art managers and double-function EOs
should desirably do. Please be good initiators. And please be willing to usher
your established artists to the scenes of ”major” art projects, biennales and
museums that are markers of developments in international art. Artist managers
should have positive extrinsic motivations that involve professional and
ethical performance in attaining goals. Please don’t just immerse yourselves in
the pool of market only because the water in that pool is sometimes clear and
refreshing but oftentimes murky and deadly like the East Java Porong-Lapindo
mudflow.
Having
described all the above, what is the heart of all the problems and wrongs?
According to Freud, basically humans have the aggressive or death instinct; so
the missing proper Indonesian art infrastructure as yet drives our artist
managers to shamelessly indulge in greediness – they are but willing and eager
to gulp anyone as a victim.
I
still remember these interesting and wise words of someone I fail to recall,
“It’s not the identity but the deeds distinguish someone”.
–––––– o
––––––
Notes
1. An art project or biennale involves
exhibiting that’s not in order to sell things
2. Museum, for exhibiting works not for selling
them
24
August 2013. 14.20 PM
SOBEKAN BUKU HARIAN
Kamis, tgl. 8 Agustus 2013
Oleh : hendrotan
ARTIST MANAGER KITA SELAIN
TIDAK BERMUTU JUGA PRAGMATIS DAN OPORTUNIS SAJA, SELAMA INI MEREKA MEMBAWA
PERUPA MAPANNYA KE MEDAN PASAR SENIRUPA BELAKA, TANPA BERUPAYA MENGANTAR KE ART
PROJECT, BIENNALE DAN MUSEUM YANG MENJADI PETANDA GELIAT SENIRUPA INTERNASIONAL
. MENGAPA ?
Akhir akhir ini, pasar senirupa Indonesia dihebohkan perilaku beberapa
artist manager yang berkecenderungan membodohi para kolektor dan investor
negeri ini, khususnya bagi mereka yang berlevel kaya dan super kaya.
Ceriteranya bermula ketika tiga sosok Manager Artist dan seorang EO ( yang
merangkap profesi sebagai manager artist ) berkumpul diruang tertutup dan saling
berpelukan erat terharu biru mengeluhkan pasar senirupa kontemporer yang
semakin terpuruk, dari percakapan saling silang pendapat, maka terpikir bahwa
karya artis mereka sudah menyebar ditangan kolektor dan investor, sejak diharga
rendah sebelum booming tahun 2007 hingga diharga yang menggila setelah tahun 2007.
Dan empat orang yang tadinya gundah gulana –– berselang empat jam kemudian, sepertinya
telah mendapatkan solusi – jalan pintas / terobosan, maka dengan semringah berbunga
– bunga melumerlah jadi satu kesimpulan dan keyakinan, bila harga pameran di
arena Art Fair Singapore dan Hongkong dinaikkan setinggi langit dengan ukuran karya
yang Jummy ( tinggi dan besar ) dan dinyatakan terjual, maka diduga akan
berimplikasi – pasti pada para kolektor dan investor pemegang stock ( karya ) sehingga
membuat mereka riang gembira atau mensyukuri, apalagi akan dapat mengukuhkan
kepercayaan pada balai lelang di Hongkong dan Singapore untuk selalu menerima karya
artisnya sebagai agenda lot terhormat dipelelangan berikutnya.
Tinggal menyempurnakan pokok siasatnya di Art Fair, bagaimana membuat nama
pembeli “ jadi – jadian “ itu agar bernalar, juga tidak terlacak, ya pakai saja
nama kerabat dekatnya sebagai pembeli yang bermukim di New York, London,
Hongkong, Taipe, Tokyo, Kuala Lumpur, bahkan kalau perlu bilang saja buyernya si
Bule atau si Nippon yang mewanti – wanti ( berpesan ) agar tidak menyebut namanya.
Kemudian pada lelang yang akan datang mereka akan mempersiapkan dana untuk
buy back dibarengi tindakan dipasar privat sale melakukan transaksi bodong –
badang ( bohong – bohongan yang rapi ) agar pasar karya artis mapan mereka jadi
ramai kembali, seperti mewantex baju lusuh yang sudah rapuh.
Gabungan rekayasa harga pasar dengan jurus tiga paket : Exhibition sale (
di art fair ), Auction sale ( dipelelangan ) dan Privat(e) sale ( jual beli
langsung yang dilakukan oleh artist manager, art dealer, galeri diluar masa pameran, bisa juga lewat perantara
) tersebut. Dapat dipertanyakan APAKAH
siasat atau taktik mereka akan membuahkan keberhasilan yang diharap ? menurut
saya, kalau dulu sebelum tahun 2007 –– siasat ini akan berhasil mulus diangka 9
sampai dengan 10, namun dengan bergesernya waktu semua info di lini pasar
seni(rupa) menjadi transparan, maka kolektor, investor berikut anak cucunya
dengan mudah dapat membuka akses informasi pasar seni dan wacananya dari info
online dan media sosial ( social network ) berpedoman pada media referensi atau
portal atau kamus besar online semisal wikipedia atau encyclopedia.com berikut Blog,
Facebook, Twitter, foursquare, instagram, flickr,
linkedin, tumblr, raddit dan lain lain. Karena itu sudah dapat diprediksi
siasat mereka akan tersandung dan gagal total.
Kegagalan ini merupakan puncak dari
gunung es yang pada akar tunjangnya menjalar kesatu krisis sikap managerial
yang dapat merusak masa depan sang artis. Mengapa ? Apa alasannya ? Menurut
saya penyebab yang paling mendasar adalah tiga artist manager dan si EO telah
berperilaku levity –– sembrono dan ceroboh –– dengan menggampangkan pola
rekayasa harga pasar karya artisnya, tidak memperhitungkan perubahan jaman, bahwa kenalaran berpikir para kolektor dan investor yang kian kritis dan semakin
cerdas; ( mereka –– para kolektor dan investor –– kerap aktif mengikuti art
talk about art market dikantong kantong yang diadakan oleh pengamat seni(rupa) atau
galeri ), dari sini sudah dapat diperkirakan pada akhirnya akan berakibat apa
yang diharapkan menjadi nihil saja, letak permasalahannya : ini akan
mencelakakan sang artis yang
mempercayakan dan menyerahkan diri kepada mereka –– artis manager atau EO ––
bahkan nama dan reputasi artis akan terlupakan / lenyap tanpa bekas di medan
pasar senirupa Indonesia berikut di seluruh wilayahnya seperti tiba tiba
tertelan oleh simply sinkhole ( lubang besar dan dalam ), tamatlah masa depan
artisnya.
Namun pihak – pihak bersangkutan
kerap membela diri dan beberapa dibela oleh partner kuratornya dengan bersandar
pada argumen “ mekanisme pasar dan dinamikanya membutuhkan siasat dan taktik ”,
berdalih seperti itu, terpancar hilangnya kesadaran bahwa manager adalah
representatif professional yang harus memiliki kepekaan etis dan nilai harkat ekstrinsik
mau pun intrinsik terhadap profesi mulianya yang berakreditasi bahkan memiliki kredensi
dari kehidupan masyarakat senirupa Indonesia.
Selain itu mereka si artist manager
dan EO yang berfungsi ganda adalah bagian ( kalangan ) pelaku bisnis dan ekonom
komoditas barang seni yang sudah seharusnya menyampaikan sinyal positif yang
membangun kepercayaan pasar, bukan malah meningkatkan tipu daya dengan akal
bulusnya meminjam kosa kata siasat atau taktik.
Sampai disini masih adakah yang akan
bertanya, kalau begini salah, begitu pun masih salah, habis… yang betul
bagaimana ? atau bagaimana sebaiknya langkah ketiga artist manager dan EO
berfungsi ganda tersebut ? jawaban bisa dicatatan harian berikutnya.
–––––– o ––––––
Selasa, tgl. 13
Agustus 2013
DI ERA KETERBUKAAN INFORMASI BERBASIS TEKNOLOGI YANG SERBA CANGGIH,
KOLEKTOR DAN INVESTOR BARANG SENI(RUPA) SEMAKIN BERWASWAS DAN CERDAS SAJA,
MEREKA KIAN SULIT MEMBELANJAKAN UANGNYA ATAU MENGINVESTASIKAN DANANYA UNTUK
KARYA PERUPA MAPAN YANG BELUM MENDAPATKAN PENGAKUAN OLEH / DARI ART PROJECT
ATAU BIENNALE ATAU MUSEUM YANG PENTING YANG MENJADI PETANDA GELIAT SENIRUPA
INTERNASIONAL, PERUPA MAPAN YANG TADINYA MENDAPATKAN PENGUKUHANNYA SEKADAR DARI
PASAR SENI(RUPA) AKAN MENGHADAPI NASIB BURUK = DIABAIKAN OLEH JAMAN BARU YANG TERISI
KECERDASAN MASIF.
Mengenai lonjakan harga karya
seni dipasar internasional, saya tidak setuju pada pendapat para manager artist
kita yang sampai sekarang masih kontroversial itu. Dalam pengamatan saya ada
persoalan yang “ lebih penting “ dibalik lonjakan harga karya seni yang
menunjukkan bahwa mekanisme pasar bukan satu – satunya penyebab.
Persoalan yang “ lebih penting “
tidak bisa dilepas dari terbentuknya sistim sosial yang ada di medan senirupa internasional
selama ini, maka perupa SEHARUSNYA mengikuti atau selalu berjuang
agar dapat terundang berpameran di Art project ¹, Biennale
dan Museum ² yang ” penting ” di pelbagai geliat senirupa internasional,
semisal Venice Biennale ( Giardini ), Sao Paulo Biennale, Documenta, Museum
MoMA, Guggenheim Museum, Kunst Museum, Tate Modern Art Museum. Dikarenakan tim kurator
acara Art project, Biennale dan Museum tersebut terdiri dari para senior
cendekia kondang, dari Kritikus, Penulis, Jurnalis, Direktur museum dan Kurator
yang reputasi dan kredibilitasnya dibidang seni dan budaya tak teragukan lagi, maka nama, derajat berikut reputasi perupa yang
selalu terundang diacara tersebut akan menyentuh tingkat terhormat dimedan wacana
senirupa internasional.
Seturut itu, kepercayaan pada derajat
dan reputasi perupa akan membias pada pasar dan karya perupa akan kencang
diburu oleh kolektor dan kalangan pelaku bisnis internasional, maka lonjakan
harga karyanya dipasar adalah hal yang sudah dapat terperkirakan dan
diperhitungkan. Dan kenaikan harga ini bisa diasumsikan terjadi karena
kepercayaan pada nilai intrinsik karya yang telah dapat pengakuan oleh lembaga
yang terhormat dan berlanjut pada nilai ekonomi yang dipercaya oleh masyarakat berikut
kontrolnya pada kepercayaan nilai nilai tersebut.
Adanya faktor mengenai kadar
seni, reputasi dan citranya sang perupa telah mendapat pengakuan masyarakat
senirupa Internasional sudah sangat jelas dan itu terjamin. Maka
kita bisa menyimpulkan kenaikan
nilai nominal karya – karya seni bertumpu pada basis nilai karya seninya yang
kuat dan terurai di / pada pameran Art project, Biennale dan Museum tersebut sebagai
geliat senirupa internasional yang penting, itu merupakan satu satunya
pertimbangan kalau tidak mau dikatakan satu satunya jalan keluar yang tidak
bisa disangkal mau pun diabaikan lagi oleh perupa mapan kita. Inilah
sesungguhnya kredo perupa mapan kita untuk menapak tujuan kemuliaan di / dalam
berkesenian.
Dengan ini saya sudah berbicara
bahwa optimisme yang percaya harga karya seni dan kenaikannya bisa dikendalikan
melalui siasat dan taktik pasar atau mekanisme pasar adalah salah besar dan
saya ingin menjawab pada sebagian orang pasar yang berujar sekarang art fair
sudah setaraf pentingnya dan sebanding pengaruhnya dengan Art project atau
Biennale, itu adalah keliru bahkan opini yang menyesatkan, karena pengaruh ranah
wacana tidak akan sama dengan medan pasar.
Art project atau Biennale
menghelat karya berlandasan pemikiran artis yang ke depan dengan penggalian /
pengembangan elemen dan unsur misteri senirupa bermotivasi intrinsik dan bisa
jadi yang ikoni ( namun tidak untuk dijual – belikan ), sedangkan art fair atau
medan pasar adalah tempat menjajakan dagangan karya seni, setidaknya yang lagi
trend dipasaran, aktivasi energiknya ekstrinsik berorientasi pada penghargaan
dan keuntungan.
Mengutip tulisan Jim Supangkat, “
Dalam pemikiran modern hal mendasar pada nilai-nilai seni itu berkaitan dengan
pemikiran tentang hubungan manusia dengan realitas mengikuti relasi
subyek-obyek. Subyek di sini adalah manusia yaitu makhluk berpikir dan
berkuasa, sementara obyek adalah aspek material pada realitas yang dikuasai
subyek. Karya seni adalah obyek, namun bukan obyek biasa. Karya seni adalah
obyek yang mengandung subyek–tampil pada karya seni sebagai tanda-tanda
kekuasaan manusia–yang membuat karya seni menjadi seperti obyek yang bernyawa.
“Nyawa” inilah nilai-nilai intrinsik karya seni.
Melalui pemahaman seperti itu
sejak awal abad ke 20, pemikiran seni modern–kritik seni, teori-teori seni dan
kajian sejarah seni–yang diuraikan melalui publikasi masif (mencapai jutaan
judul buku) mengukuhkan bobot nilai-nilai intrinsik karya seni(rupa) itu.
Ketika museum-museum menaksir nilai nominal koleksinya, bobot nilai intrinsik
ini membuat nilai nominal karya seni menjadi tinggi. Maka sudah sejak awal abad
ke 20, harga karya seni, khususnya koleksi museum, memang sudah tinggi.” Pengamatan
saya, buah pikir Jim Supangkat disimpulkan secara logis dan disampaikan dengan
runut dan bagus sekali.
Menjawab pada pertanyaan, sebaiknya langkah apa yang ditempuh oleh para artist
manager atau EO yang berfungsi ganda. Jadilah inisiator yang baik. Dan mau mengantar
perupa mapan anda hingga dapat berpameran di medan Art project, Biennale dan Museum
yang “ penting “ yang menjadi petanda geliat senirupa internasional, artist
manager harus bermotivasi ekstrinsik yang positif mengacu pada kinerja yang
profesional dan beretika untuk mencapai hasilnya, janganlah berkecimpung di
kolam pasar melulu, karena kolam pasar kadang berair jernih dan menyegarkan seperti
banyu biru, namun kerap kali keruh dan mematikan bagai lumpur porong – lapindo.
Penguraian perihal tersebut bila dicari sumber masalah dan salahnya dimana
? ini teori Freud, pada dasarnya manusia berinsting agresif atau death
instinct, karena itu tidak terbentuknya infrastruktur senirupa Indonesia yang benar
dan baik telah menjadikan artist manager kita tanpa malu berlomba – lomba dengan
ketamakannya, tanpa peduli siapa pun akan dimangsanya dengan lahap.
Saya masih ingat satu kalimat
yang bijak dan menarik entah oleh siapa saya lupa, “ Bukan jati diri yang
membedakan seseorang, namun perbuatannya “.
–––––– o ––––––
Catatan
kaki
1. Art Project, atau Biennale berpameran tidak untuk
berjualan
2. Museum, berpameran tidak untuk berjualan
Tgl. 24 Agustus 2013, jam 14.20
Tgl. 24 Agustus 2013, jam 14.20
Wednesday, July 31, 2013
2 . 6 . CATATAN SAKU
2 .
6 .
Pocket Notepad
By : hendrotan
1 August 2013
The decreasing enthusiasm among buyers
in Indonesian contemporary art market is caused by just some immature attitude
of some of more established artists; as for the stillness of Indonesian
modernist art market, there are indications of a significant role being played
by some art brokers behaving like robbers.
1.
Today I’m trying to answer the question why is it that the
market price of Indonesian contemporary artwork is ever decreasing? Has the
market demand been still or even quieted?
The opposite go for the prices of
beef and several other daily consumption items. The increase of the demand is
massive while the supply feels ever insufficient.
Meanwhile we know that Indonesian
contemporary art market is marked by voluminous supply and yet weak demand; why
is it, is Indonesian art market no longer needed? Or is it because the growth
rate of young collectors and investors not significant enough to replace
old-aged collectors and investors fed up with recent developments and future of
Indonesian contemporary artwork market? Is it because the quality and
achievement of works as observable through various event events seem stubbornly
stagnant? Or is it caused by the absence of groundbreaking works? Or the
structure of market prices of works by established Indonesian contemporary
artists is so fragile that it discourages collectors and investors to buy? Or
the prices of Indonesian contemporary artists’ works are still too high
vis-Ã -vis those of artists from other Asian and Western countries with similar
reputations? Or isn’t it because those more established artists whose works
cost very high during the 2007-08 boom find it hard to correct or restructure
the prices of their works? Isn’t it because of misleading suggestions and
advices offered by those enjoying profits during the boom? Or is it an effect
of misinformed market theory imparted by curators that also function as
promoters or dealers? Or is it because of the strong odor of the misbehavior of
some established artists related to ‘cooked prices’ at Hong
Kong auctions? Or isn’t it due to some cases of
tricky, artificial transactions at the Indonesian gallery booth in the Art Fair
Basel in Hong Kong, 2013 (just recently) that were easily read as shallow
deception that eventually kept collectors and investors from having things to
do with Indonesian art market? Or have the Indonesian art community people, the
collectors, investors and appreciators in particular, lost their trust in the
attitudes of some more established artists and their managers regarded as
‘immoral’? Or is it because Indonesian artworks shown annually in various
commercial spaces seem to increase quantitatively, but not qualitatively, so
all the ritualistic exhibitions only produce noises instead of voices, tend to
be sensational instead of essential, to look more like contests in peddling
products while relying on image-making, somewhat arrogantly, while
expecting transaction?
In political life, politicians have to launch
political will and policies based on good for the many (not just for kin and
party members) and for the sake of increasing the people’s welfare (not only
for the sake of certain people sharing religious beliefs and ideologies with them).
But in the art market organizers of annual commercial exhibitions
such as ¤¤¤¤ and ¤¤¤¤ design their flattering promotion,
instructing artists on how to make artworks and to engage in creativity
processes by breaking through barricades, fostering the “herd mentality” in
dealing with some context without offering any meaningful and significant
discourse to artists or teams of individual artists that they adopt in
observing subjects, cultures and settings so that they can create works that
represent their absorption of nutrition available around them, works with
conceptual depth supposed to amaze viewers. But what happens in reality is that
the two organizers give primacy to gaining made-up profits from selling
artworks at exhibitions, spreading gossips about the amount of sale in order to
save face in front of art audience and
art market and to try to ensure that artists are willing to take part in the
next exhibition. They try to exploit ignorant artists by spurring them into
market but they don’t have the ability to raise up the artists’ levels of
prestige.
Sorry, dear readers, today I
fail; I’m unable to give any concrete or specific answer to your question why
the market price of Indonesian contemporary art is ever declining although I’m
still enthusiastic to order books to Amazon and I will not stop asking about it
to some friends of mine who are lecturers, curators, collectors, investors as
well as fellow gallery owners and auction-house CEOs.
2.
Art dealers – or art brokers as
they are called in Indonesia
– tend to behave like demigods. They like to flatter top-rank collectors and
super-rich investors, often with lies to make them interested to make buys.
This is the current condition of
our art market: art brokers’ opinions are rendered to represent their unfailing
ability to distinguish genuine and forged works of Indonesian maestros. And the
popularity of an art broker is not debited on his/her evil committed yesterday.
These two points explain the illness of our art market today; seemingly our art
community is suffering from some mental illness (patholopolis?) So it is now
time to have an institution with the task of carrying out comprehensive
research/studies of the works of Indonesian maestros and to have forensic,
artistic, environmental, social and esthetic pathologists.
There is an interesting story of
an art collector buying a painting by a maestro from a famous art broker named
¤¤¤¤. Nine years later it is discovered that he has bought a forged work (now
the price is already six times higher or so). During the negotiation process
regarding the returning of the work to the seller, another senior art broker –
abbreviated as ROT – meddled and said, “it’s the buyer’s (collector’s) own
mistake why was he not careful in buying a painting – he should have at least
consulted me before buying it”. ROT seemingly wanted to make it clear that as
consumers, collectors or investors we ought to be alert and skeptical. Yet
regarding his statement we may still question why it is that when we go to an art
broker, someone whose profession presupposes uprightness and credibility, and
also trust from the art market circle, we still have to doubt the genuineness
of paintings that s/he sells. This can be regarded as analogous to us buying an
LV bag from a representative dealer or at a
showroom in Plaza Indonesia ,
or a Toyota car
at an Astra showroom, but doubting the genuineness of those products and even
having to consult other dealers; it is as if a buyer (collector) were an infant
or stupid ass.
ROT then added that if you have
the certificate how could you prove that the painting in question is a forgery?
Yes even if it is in fact a forgery and of number-two quality.¹
If the seller (the famous art broker ¤¤¤¤) is willing to return the money, it
be a good luck on the part of the buyer/collector – without any explanation
about where responsibility fled on the part of the seller for the opportunity
loss shouldered by the victim who had already invested his money as long as
nine years.
ROT’s words made me quiet and
think for a long while before eventually realizing that so far our art market
has been filled up with maestro works art brokers, like ROT the senior art
broker, who have the robber mentality and nature and will not be reluctant to
mince collectors and investors for their dinner. Moreover, they even position
themselves as a sort of sages of the arts while actually they resemble
demagogues delivering speeches from the platform, trying their best to conceal
their tails while daydreaming that they are prominent characters in the history
of Indonesian art.
With his perspective ROT seems to
intend to turn upside down the business protocol and ethics hitherto operative
as standards. In the face of those denying the responsibility regarding the
forged maestro, it is quite easy to offer this reasoning: the today’s market
price of the maestro work massively formed is six times of the buying price
nine years ago so the question is will it be sold twice the initial buying
price? Obviously the answer is that market will immediately respond positively
if the piece is genuine but if it is a forgery everyone will shun it!
As elements of Indonesian art
market, if we still want to adopt a positive attitude, we should not stand idle
– we ought to take a concrete and significant action in our attempts to
introduce renewal and improvement, to have the courage to break through the
curtain of deceit and to break new ground and map new fields by, for instance,
working together founding research/study institutions supported by forensic
specialists, sociologists, cultural study experts as well as historians,
working with scientific approach, so
that some art brokers may stop regarding us as donkeys. We should not let them
concentrate their toxins that will always harm the collectors, investors and
audiences of Indonesian maestros. It is such awareness that we as collectors,
investors and appreciators, should develop in exploring the essence the
artworks.
There is the adage in Latin, “Ubi Societas, Ubi Justicia “, where
society and life is, there is justice/law; yes exactly; justice/law doesn’t
come down from the sky and it’s enough for us if we just turn our faces up and
spread our hands – we need fists to struggle and fight to have it.
2.6
For Established Artists
0.1. EXCUSE –– or pretext that we build up in specific wrong events/doings is
like giving apology for series of evil done to our relatives by thugs that we
know very well, WHO ARE THEY? Only us,
ourselves.
0.2. An eventual
success in managing family finances actually brings utmost happiness
(certainly
without committing any crime).
0.3. The order of happiness is as follows:
B.Success in managing family
finances. F. Artwork has
a strong, solid price structure in international art market like those of
Andy Warhol
+ Jeff Koons (USA ),
Andreas Gursky +
Gerhard Richter (Germany ) and Damien Hirst + Francis Bacon (England ).
D. Tens of works are collected by the MoMA
Museum , Guggenheim Museum ,
Kunstmuseum, Tate Modern Art Museum , famous collectors and world-class
investors.
C. Integrity
acknowledged by the public
E. Tens of works are collected by
Indonesian major collectors and super-rich
investors of integrity and clear,
positive attitude in developing Indonesian
artwork infrastructure.
A. Belief in One God.
For Collectors and Investors of modernist/maestro works
0.4. Art dealers
(called ”art brokers” in Indonesia )
selling forgeries not by mistake;
actually they
collect money by intentionally taking advantage of people’s ignorance.
0.5. Those
tolerating forgery sellers are more evil than the misdeed itself.
0.6. The
legitimacy of Indonesian maestro works will stand if reinforced by credible
research and
study institutions that we ourselves can develop.
–––––– o
––––––
Note:
1. The forgery of maestro works knows the
classification of levels of forgers’ ability; the best products are classified
as Q1 (first quality) to be followed by Q2 below them and so
–––––– o ––––––
2 . 6 . CATATAN SAKU
Oleh
: hendrotan
1 Agustus 2013. Jam 13.45
Merosotnya
animo pembeli di pasar senirupa kontemporer Indonesia tak lebih karena tidak
matangnya sikap sebagian perupa mapan; sedangkan tidak bergairahnya pasar senirupa
modernis Indonesia terindikasi ada peran besar oleh sebagian art broker yang
berperilaku layaknya penyamun.
1.
Hari ini saya berupaya menjawab
pertanyaan mengapa harga pasar karya senirupa kontemporer Indonesia semakin menurun saja ?
Apakah permintaan pasar sudah senyap bahkan kesirep ?
Kebalikan dengan daging sapi dan
beberapa kebutuhan bahan pokok, kenaikan permintaannya bersifat masif,
sedangkan suplai serasa selalu tak mencukupi.
Disisi lain kita mengetahui bahwa
pasar senirupa kontemporer Indonesia
suplainya melimpah namun permintaan pasar loyo, mengapa, apakah sudah tidak
dibutuhkan ? Atau disebabkan oleh pertumbuhan kolektor dan investor muda pemula
tidak dalam angka yang signifikan cukup mengganti sejumlah kolektor dan
investor uzur yang jenuh dengan perkembangan dan prospek pasar karya
kontemporer kita ? Apakah karena kwalitas karya perupa yang tertampak diperhelatan
itu – itu saja tidak ada pembaruan atau pencapaian yang
dapat menggedor syaraf penikmatnya ? Atau karena tidak dijumpai karya karya perupa
yang berhasil menerobos batas dan memetakan wilayah baru ? Atau struktur harga
pasar karya kontemporer perupa mapan Indonesia rapuh hingga membuat jera
kolektor dan investor untuk membelinya ? Atau harga karya perupa Indonesia ( masih saja ) kemahalan dibanding nama dan reputasi
setara para perupa negara Asia dan negara
Barat lainnya ? Atau tidakkah karena perupa mapan yang harga lukisannya membumbung – melangit sewaktu booming 2007 –
08 mengalami kesulitan meng(k)oreksi atau merestruktur – kembali harganya ?
Bukankah ini akibat dari saran – saran yang menyesatkan oleh galeri penikmat
keuntungan pada masa booming ? Atau karena pemaparan teori pasar yang salah
oleh kurator yang menyambi menjadi promotor atau dealer ? Atau akibat mudah
terendusnya perilaku – anyir sebagian perupa mapan pada penggorengan yang banal
dipelelangan Hongkong ? Atau tidakkah dikarenakan beberapa kasus pencapaian
harga transaksi bual basung di booth galeri Indonesia di Art Fair Basel
Hongkong 2013 ( baru baru ini ) mudah terbaca sebagai kebohongan dangkal yang
membuat khalayak kolektor dan investor memerah wajahnya, sehingga enggan
menyentuh pasar senirupa Indonesia ? Atau masyarakat senirupa Indonesia khususnya kolektor,
investor dan penikmatnya terlanjur tidak mempercayai sikap sebagian perupa
mapan berikut managernya yang dianggap krisis akhlak dan tuna susila ? Atau
karya yang dipamerkan pada tiap tahun di pelbagai ruang umum komersial terlihat
jumlahnya meningkat, tapi tidak tumbuh berkwalitas, hingar bingar ritual
pameran sekadar menghasilkan bising bukan suara, terkesan bersensasi tapi buta
dalam esensi, mirip perlombaan menjajakan dagangan akibat muatan kuantifikasi
yang dikemas penggalangan, pencitraan, semacam arogansi dan berharap transaksi
?
Kalau didunia politik, para
politikus harus membuat kehendak dan kebijakan politik yang berazaskan kemaslahatan
orang banyak ( bukan melulu anggota keluarga atau anggota partai ) dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat dapat melampaui apa yang faktual ( tidak
hanya pada rakyat seagama atau seideologi ), sedangkan dipasar senirupa para
penyelenggara pameran komersial berkala setahun seperti ¤¤¤¤ dan ¤¤¤¤
merancang kebolehannya berpropaganda, pada perupa mengajarkan berkarya dan
berproses kreativitas dengan menerobos dibawah palang, artinya menggiring herd
mentality bergerombol mengusung konteks tanpa menyodorkan wacana yang berarti
dan penting sebagai alternative kepada perupa atau tim kerja perupa individual
untuk mencermati subjek, budaya dan lingkungannya hingga menciptakan karya
hasil resapan nutrisi dan gizi disekitarnya yang benar benar memiliki kedalaman
konsep dan ide bermuatan radikalisasi yang semestinya mengejutkan sehingga
penikmatnya terperangah, mulutnya menganga tanpa mampu dikatupkan, kebalikan tersebut
kedua penyelenggara lebih mementingkan bagaimana bisa untung dengan menjual
karya di pameran, menebarkan isu palsu – jumlah penjualan, agar tidak
kehilangan muka didepan khalayak perupa dan pasar senirupa, bertujuan menjaga
gengsi dan untuk meyakinkan keikutsertaan perupa pada agenda pameran tahun
berikutnya. Alih alih mengekploitasi kedunguan perupa dengan memacu dalam medan pasar untuk
berjualan tanpa kemampuan mengangkat derajat atau kelas penciptanya.
Maaf teman pembaca, hari ini upayaku
gagal karena aku tidak mampu menjawab secara konkrit atau spesifik pertanyaan
Anda, mengapa harga pasar karya senirupa kontemporer Indonesia semakin menurun,
walau aku masih bersemangat memesan buku ke Amazon dan tidak akan berhenti bertanya
ke beberapa teman Dosen, Kurator, Kolektor, Investor, Galeri seprofesi dan
pemilik atau CEO balai lelang.
2.
Perilaku art dealer atau di Indonesia
dinamakan art broker lebih banyak berkarakter Demagogi –– Penghasutan terhadap
kolektor papan atas dan investor super kaya dan tidak jarang dengan kata – kata
yang dusta untuk membangkitkan minat beli.
Inilah kondisi pasar senirupa
kita : opini art broker menjadi identik yang berkemampuan pasti untuk
membedakan lukisan maestro Indonesia
asli atau palsu. Dan popularitas seorang art broker tidak didebitkan pada cacat
dan kejahatan yang dilakukan pada hari kemarin. Dua kondisi inilah yang
menerangkan penyakit pasar senirupa kita hari ini, sepertinya masyarakat kota
senirupa dihinggapi penyakit mental layaknya patolopolis, maka sudah waktunya
kita membutuhkan keberadaan lembaga riset / kajian karya maestro senirupa
Indonesia yang komprehensif, memiliki patolog patolog forensik, artistik,
lingkungan, sosial dan estetik.
Suatu kisah kasus yang menarik
untuk disimak, seorang kolektor membeli karya lukisan maestro pada seorang art broker
yang terkenal bernama ¤¤¤¤, berselang sembilan tahun ketahuan karya lukisan itu
palsu ( sedangkan harga dipasar sudah naik ± enam kali lipat ), dalam waktu proses
negosiasi atau perundingan pengembalian lukisan antar bersangkutan, ditengah –
tengah muncul pernyataan art broker senior lainnya – diinisialkan ROT saja, begini katanya “ ya salah pembelinya (
kolektor ) mengapa membeli lukisan tidak berhati – hati atau setidaknya
menanyakan kepada saya “, sekilas ROT mau menerangkan sebagai konsumen atau
kolektor atau investor kita harus waspada dan tidak mudah percaya, seiring pendapatnya masih dapat
dipertanyakan jika art broker dengan kemuliaan profesinya yang berderajat
kredensial dan memiliki akreditas dari masyarakat pasar senirupa toh masih juga
diragukan pada keputusan keaslian lukisan yang dijualnya, ini bisa dianalogikan
seperti kita membeli pada representative dealer atau show room tas LV Louis Vuitton – Luvitong
di Plaza Indonesia atau mobil Toyota – di show room Astra namun meragukan
keaslian barangnya, apalagi harus bertanya – tanya pada dealer lainnya,
keniscayaan ini menempatkan si pembeli ( kolektor ) bagaikan anak ingusan macam
keledai.
Berlanjut dengan langkah yang
sama, si ROT menambahkan kalau sudah ada sertifikatnya, ya bagaimana pembuktian
palsunya walau lukisan itu sesungguhnya palsu dan berkwalitas dua ? ¹
kalau si penjual ( art broker terkenal ¤¤¤¤ ) mau mengembalikan uang pokok, ya
itu merupakan rejeki besarnya si kolektor. Tanpa dijelaskan terus dikemanakan
tanggung jawab penjual untuk opportunity – losenya sang korban, dan sudah pasti
menjadi haknya yang telah menginvestasikan uangnya selama 9 tahun.
Serangkaian kalimat kata dari ROT
membuat saya termenung lama yang pada akhirnya tersadarkan bahwa selama ini pasar
senirupa kita dihuni oleh sosok art broker – karya maestro layaknya macam si
senior ROT tersebut, yang bermental dan berkarakter penyamun, yang tak segan
mencacah warga kolektor dan investor sebagai konsumen untuk santapan makan malamnya,
toh masih sempat menyetarakan dirinya bagaikan sang sufi senirupa, padahal tak
ubahnya demagog berpidato diatas panggung yang berupaya melipatkan ekornya
sembari membawa impian sebagai pelaku sejarah senirupa Indonesia.
Paradigma atau kerangka berpikir
macam apa yang dipakai oleh ROT, sepertinya dia berniat menjungkir balikkan
tatanan aturan dan etika bisnis yang ada yang berlaku standar selama ini. Jika
siapa berkelit mengelak tanggung jawab palsunya lukisan maestro tersebut, maka
mudah mencari pembuktiannya sebagai berikut : Harga pasar lukisan maestro yang
telah masif terbentuk dihari ini, adalah sedikitnya enam kali lipat dari harga
pembelian 9 tahun yang lalu, pertanyaannya : Akankah lukisan tersebut terjual
seharga dua kali lipat dari harga pokok pembelian ? jawabannya gampang sekali,
pasar akan merespon cepat, kalau Asli pasti berebut pembelinya, sebaliknya
Palsu tidak ada yang sudi !
Sebagai warga pasar senirupa Indonesia
kalau masih berkeinginan mengadopsi penafsiran positif, maka jangan to stand
idle – berpangku tangan, sudah sejogjanya bangkit dengan tindakan nyata “ penting
“ dalam berproses untuk pembaruan dan kemajuan, berani menerobos tirai
pembodohan dan memetakan wilayah baru antara lain berpatungan mendirikan
lembaga riset / kajian yang terlengkapi ahli forensik, ahli sosiologi, ahli cultural
studies dan sejarawan, melakukan scientific approach – pendekatan secara ilmiah
agar kita tidak selalu dianggap donkey oleh sebagian art broker, juga
seharusnya kita tidak membiarkan mereka mengkonsentratkan toksiknya yang akan membuat sakit dan menderita berkepanjangan bagi khalayak
kolektor, investor atau penikmat karya maestro Indonesia. Kesadaran ini
yang perlu dibangun dijadikan semangat menggali hakekatnya sebagai kolektor
maupun investor dan penikmat senirupa.
Adagium latin menyatakan “ Ubi
Societas, Ibi Justicia “, dimana ada masyarakat dan kehidupan, disana ada
keadilan ( hukum ), ya, tepat sekali, keadilan itu tidak turun dari langit yang
mana cukup kita menengadah dengan membuka kedua telapak tangan, namun
sesungguhnya dengan kepalan – bogem memperjuangkan untuk mewujudkannya.
2.6
Untuk Perupa – mapan
0.1.
EXCUSE
–– Permakluman atau alasan yang
kita kukuhkan pada peristiwa khas intern yang salah, sepertinya memaafkan
perbuatan jahat yang bertubi – tubi
menimpa sanak keluarga kita oleh makhluk laknat
yang kita kenal dekat, SIAPA
ITU ? kiranya
diri kita sendiri.
0.2. Keberhasilan dimasa yang panjang dalam mengatur keuangan keluarga
sesungguhnya dia telah meraih kebahagiaan tertinggi ( tentu tanpa melakoni
kriminalis ).
0.3. Pada hematnya urutan kebahagiaan sebagai
berikut :
B. Berhasil mengatur keuangan keluarga.
F. Karyanya memiliki struktur harga yang
kuat dan kukuh dipasar senirupa
internasional, seperti Andy Warhol + Jeff Koons (
Amerika ), Andreas Gursky +
Gerhard Richter ( Jerman ) dan Damien Hirst +
Francis Bacon ( Inggris )
D.
Berpuluh karya dikoleksi oleh MoMA Museum, Guggenheim Museum,
Kunstmuseum, Tate Modern
Art Museum, Kolektor kondang dan Investor kelas
dunia internasional.
C. Integritas kita dapat pengakuan publik.
E. Berpuluh karya dikoleksi oleh Kolektor
besar dan Investor super kaya di
Indonesia tentu kolektor dan investor yang punya integritas, sikapnya
jelas dan
positif
dalam membangun infrastruktur SRI.
A.
Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk Kolektor dan Investor
karya modernis / Maestro
0.4. Art dealer ( Indonesia menyebut art
broker ) menjual barang palsu bukanlah
kealpaan, sesungguhnya dia mengumpulkan
harta sembari berpuas diri atas
kebodohan seseorang.
0.5. Lebih jahat si pemberi tenggang rasa kepada penjual barang
palsu daripada
kejahatan itu sendiri.
0.6. Legitimasi karya maestro senirupa Indonesia akan terjawab bila
diperkokoh suatu
tatanan kelembagaan riset –
penelitian yang kredibel dan itu hanya dapat diwujudkan
oleh kita sendiri.
–––––– o ––––––
Catatan kaki
1. Dunia pemalsuan karya
lukisan maestro dikenal dengan klasifikasi kelas kemampuan para
forger, hasil terbaik sebagai kwalitas satu atau Kw 1 dan demikian berurut kebawah.
Subscribe to:
Posts (Atom)




