Wednesday, January 6, 2016

SELAMAT TAHUN BARU PPSI

SELAMAT TAHUN BARU PPSI
Selamat Tahun Baru para PPSI wan atau tuan tuan pemilik lukisan Old master yg berada di PPSI.
Dengan ini saya ingin bertanya agenda PPSI selanjutnya. Dan apakah masih dlm rangka bersyiar ria pada lukisan Old master OHD Museum yg diragukan keasiannya, namun dibalik itu anda tidak berani membahas lukisan Old master Hendra Gunawan yg direferensikan sebagai asli dlm buku Jejak Jejak Lukisan Palsu yg anda terbitkan ? ( dan lukisan itu milik tuan tuan ). Sungguh saya dan teman teman pada meragukan keaslian atau autentisitas delapan sd sepuluh lukisan Hendra Gunawan yg secara implisit dibuku anda direferensikan asli itu.
Atau anda sudah menyadari bahwa bagi seniman atau kurator bahkan pecinta senirupa sudah tidak penting lagi membicarakan hal tsb. Sebab ke 1. Masing masing kubu sudah menerbitkan buku yg didukung tulisan mirip pernyataan sumpah setia pada parpol saat pilpres tempo hari. Karena itu selanjutnya bisa diserahkan kepada waktu yg menetukan siapa yg hitam atau yg lebih hitam, ke 2. Sekarang seniman dan kurator butuh mencurahkan perhatian dan pemikiran pada profesinya dlm bereksplorasi atau kontemplasi. Dan ini yg lebih penting dgn cetar dibicarakan selalu. Dan yg selalu ini merupakan kodrati Seni Rupa Indonesia .
Sebelum melanjutkan tingkah ilusi kita yg kecenderungan demi syahwat kekuasaan pada pasar lukisan Old master lebih jauh sebaiknya sampai disini dulu, salam hangat iya ..

Tgl 6 Januari 2016. ( hendrotan )


Thursday, October 8, 2015

SENIKU DUNIAKU

SENIKU DUNIAKU 
_________________

Banyak yg tidak tahu atau tidak banyak yg tahu dan saya sendiri baru menyadari bahwa kesejatian atau esensilitas SENI RUPA dunia telah bergeser dan masuk kejaman yg dinamakan ERA GLOBALISASI (Globalization). Dan yg membuat saya tercengang ITU tidak membutuhkan lagi bersandar pada standar paradigma ORIGINALITY DAN IDEA yg inventive berdaya cipta sebagai pereka gagasan pertama.

Hari ini yg diminta dan diakui dunia seni rupa adalah penciptaan karya Seni berdasarkan CONTEXT dan ZEITGEIST / Spirit of the time, dg terjemahan bebasnya sbb.

CONTEXT --> Makna pada hubungan kedalaman isi karya .
ZEITGEIST --> Semangat jaman pada peristiwanya karya .

Dan unsur lokal sangat diperlukan sebagai identitas kebudayaaan tempatmu berpijak .
Selamat berkreativitas dg kemampuanmu berimaginasi.

8 Oktober2015
hendrotan


Thursday, August 27, 2015

BUKUNYA PPSI " JEJAK LUKISAN PALSU INDONESIA "

BUKUNYA PPSI " JEJAK LUKISAN PALSU INDONESIA "
____________________________________________________

Saudara saudaraku pecinta seni senusantara yg selalu memperhatikan perkembangan persoalan yg berakibat kegegeran lukisan palsu Old master Indonesia, kalau kebetulan yg membaca tulisan ini adalah kolektor, yg mana anda merasa perlu meningkatkan pengetahuan tentang pasar sejarah dan sejarah pasar senirupa Indonesia, maka saya merekomendasikan agar membeli dan bacalah buku berjudul Jejak Lukisan Palsu Indonesia yg diterbitkan oleh PPSI.

Saya berani mengenalkan buku yg mahal ini, selain saya telah membaca habis isi buku tsb. Juga disebabkan buku ini diedit oleh penulis dan jurnalis senior Bambang Budjono. Tersimpulkan INI MEMANG BUKU BAGUS. Merupakan kumpulan karya tulis yg bermutu tinggi oleh penulis penulis berkompetensi dibidang pasar atau sejarah seni rupa Indonesia.

Kalau pun dikatakan ada kekurangan dalam buku ini, misalkan salah kutip menurut saya itu masih dalam batas kewajaran dan tentu akan mudah diperbaiki pada cetakan berikutnya. Tetapi kesalahan pada kecerobohan diikut katut termuatnya puluhan lukisan Old master Hendra Gunawan yg diragukan keAslian ataupun otentisitasnya. Bahkan tidak menyertakan data provenance seturut itu keraguan masyarakat seni rupa kepada beberapa lukisan Old master Hendra Gunawan didalam buku tsb akan semakin menguat.

Banyak kolektor muda juga yg semi senior dan petinggi auction house internasional kerap menyampaikan uneg unegnya -- Lah image lukisan Old master Hendra Gunawan yg sangat meragukan gitu koq dimasukan dlm buku sebagai referensi lukisan Asli ? Terus yg asli itu sebenarnya ditempat OHD Museum atau dibukunya PPSI ? ( ‪#‎sarkastis )

Niscaya terjadi kontra produktif keberadaan gambar lukisan Old master Hendra Gunawan yg sangat diragukan keasliannya pada / di / dalam kehadiran buku tsb di wahana senirupa tanah air. Dan patut disesalkan kecerobohan dimuatnya gambar lukisan Hendra Gunawan yg diragukan kedalam buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia terkesan ( implisit ) utk dipaksakan sebagai lukisan Hendra Gunawan yg asli.

Sungguh ironis dan disayangkan, bagaikan nila setitik rusaklah susu sebelangga. Namun apa pun tulisan tulisan dalam buku yg cendrung berdisiplin akademik adalah penting. Dan dapat dijadikan kelengkapan jurnal pengetahuan dlm mengarungi cakrawala dunia pasar senirupa Indonesia dan sejarahnya.

28 agustus 2015
hendrotan



Monday, August 10, 2015

SARAN PAK DOSEN

SARAN PAK DOSEN 
___________________

Beberapa teman Dosenku jurusan seni rupa dan juga di DKV, FISIP, FIB bahkan yg dijurusan sospol memberi saran yg mirip mirip, agar saya menggelar diskusi dg mengundang orang orang yang kompeten ttg lukisan palsu old master tsb. Daripada sekadar posting kritik di FB atau Twitter. Dan datangkan jurnalis dari majalah Tempo yg memimpin investigasi seputar persoalan lukisan palsu dan jangan lupa menyertakan harian Kompas juga sakalian kumpulkan bos OHD Museum, Pentolan PPSI, keluarga Hendra Gunawan, S Soedjojono. Soedibio. Peneliti dan Sejarawan SRI. Kurator. Kolektor. Art dealer. Art broker dan Balai lelang yg berkompeten termasuk sejumlah gallerist dan sebanyak mungkin seniman. Dijamin sip, lebih seimbang, lebih objektif, lebih holistik.

Bersama ini saya menjawab terima kasih, yg disarankan itu memang bagus, tetapi tindakan tsb. semestinya dilakukan oleh yg berkepentingan yaitu bos OHD Museum atau Lin Ce Wei. Sedangkan saya sebatas dikarenakan nalar kritis yg lahir dari rasa keadilan dan kebenaran hati nurani kemudian memberitakan kepada masyarakat Seni Rupa Indonesia agar tidak diperdaya oleh sekelompok art dealer, art broker atau kolektor hitam yg berstrategi pengelabuhan -- deceptive.

" SESUNGGUHNYA KULTUR EKONOMI BARANG SENI YG BERHARGA TINGGI HIDUP SERUMAH DG KEJAHATAN DAN TIDAK PERNAH BERBUDAYA BAIK "

Bagaimana menurut Anda ?

11 Agustus 2015
hendrotan

Sunday, August 9, 2015

OH .. MAS BAMBANG BUJONO

OH .. MAS BAMBANG BUJONO

Tadinya saya sudah berjanji dalam doa semalam, mulai selesai doa ini saya akan menghindar utk meng(k)eritisi tentang Palsu, Aseliut dan Aslinya lukisan Old Master atau Maestro Indonesia. Tetapi begitu membaca koran Kompas tgl 6 Agustus 2015 yang mana Bambang Bujono berkata " Mungkin saja lukisan palsu itu tak ada masalahnya untuk menjadi koleksi seseorang. Tetapi, ini menjadi masalah ketika dijadikan koleksi sebuah museum yg disampaikan untuk edukasi publik. " langsung saja terusik rasa keadilan yg mendekam dilubuk hati ini, karena itu lewat status di FB saya bertanya kepada Bambang Bujono.

Mas Bambang Bujono kalau lukisan old master tidak memiliki data provenance juga diragukan autentisitasnya oleh masyarakat seni rupa atau setidaknya komunitas saya. Dan terkesan atau secara implisit dibuat oleh PPSI sebagai referensi lukisan yg asli didalam buku " JEJAK LUKISAN PALSU INDONESIA ". Dan buku tersebut jelas demi mengedukasi publik.,

Lantas bagaimana anda menyikapi hal ini mas Bambang Bujono ? Mudah mudahan anda berkenan melanjutkan diskusi online ini utk mau bertanggung jawab pada pernyataan anda di forum diskusi yg dihadiri ratusan perupa muda pada tgl 5 Agustus yg baru lalu, agar mencerahkan kita semuanya.

10 Agustus 2015
hendrotan

Wednesday, April 8, 2015

PROVENANCE

PROVENANCE
Arti data provenance pada karya seni Old master Indonesia
_____________________________________________________
Oleh : Hendrotan
Tgl. 09 April 2015, jam 10.50

Ada yg menyangka arti kata provenance dari karya seni Old master sebatas pemilik / kolektor menerangkan asal usul perolehan karya seni tsb dari mana, tanggal berapa, ditempat mana, harga berapa, bukti pembayaran dan lain sebagainya sudah cukup padat utk melengkapi. Kalau pemilik / kolektor dapatnya dari membeli langsung kepada sang Old master maka dg data kelengkapan tsb. Tentu sudah cukup dan benar adanya.

Tetapi jika dia- buyer dapatnya dari tangan kedua atau ketiga dan seterusnya, maka yg dibilang data provenance pada sebuah karya seni Old Master HARUS dapat menerangkan secara runut berurutan sampai pada awalnya lepas dari tangan sang Old master, mirip tugas investigasi museum Old master di Eropa atau tim Jurnalis pelacakan majalah Tempo.

MENGAPA ?

Seperti diketahui bahwa karya seni atau lukisan Old master sejak dulu diburu karena kemedol ( baca salable ), dg kenyataan hari ini harganya yg melangit contoh termurah berkisar 2 milyar sampai dengan 300 milyar seperti lukisan Sudjojono SS yg di museum Fatahilah dan lukisan Hendra Gunawan di Art Center, sehingga rawan pemalsuan yg dibuat oleh seniman pemalsu, yang mana mereka / pemalsu memiliki jaringan langganan atau bisa dikatakan bekerja sama dg art dealer atau art broker atau tengkulak lukisan *1 . Selain itu amburadulnya admintrasi pendataan sang Old master ( bahkan ada yg tidak sudi mencatat ), ini merupakan kesalahan fatal yg dilakukan Old master waktu itu dan menjadikan peluang pemalsuan yang melebar.

Dari sini harus disimpulkan bahwa pemahaman dan persyaratan utk keabsahan data provenance karya seni Old master Indonesia tidak sedangkal atau semudah yg diperkirakan oleh beberapa orang yg terlanjur memiliki karya seni atau lukisan Old master yg abu abu, karena sewaktu membeli tidak pernah terpikirkan pentingnya data PROVENANCE bagi sebuah lukisan Old master yg harganya sekarang betul betul menggila.

________ ... _______
Note:
*1 ditahun 1980 sudah ada seniman yg khusus menekuni pekerjaan memalsu lukisan Old master, karena pasarnya ramai oleh banyaknya petualang pasar yg diam diam memesan tanpa batasan jumlah. Tentu dari jumlah 20an pemalsu yg menekuni serius profesinya selama berpuluhan tahun, niscaya lahirlah dua atau tiga pemalsu yg memiliki bakat dan kemahiran berkelas sehingga hasil lukisan palsunya yg bergoresan teknik artistik dan etetisnya menjadi sulit dibedakan antara yg palsu dan asli.

PETA SEJARAH SENI RUPA DUNIA BARAT






Monday, March 23, 2015

KARYA SENI OLD MASTER DENGAN KEBANGGAAN DAN KESENGSARAANNYA

KARYA SENI OLD MASTER DENGAN KEBANGGAAN DAN KESENGSARAANNYA
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh hendrotan

23 Maret 2015, 15.25

1. ASLI ATAU ASELIUT ( PALSU )

Utk mengukuhkan ke ASLI an sebuah lukisan atau karya seni Old Master yang harganya sudah melangit ada beberapa cara dan yang paling valid adalah PROVENANCE ( ini merupakan keabsahan identitas karya seni tsb., kalau manusia macam surat kelahiran , kk , info tetangga sekampung dan rt , rw, lurah lingkungan, ijasah sekolah sd, smp , sma dan seterusnya termasuk keterangan guru pendidik + teman teman sekolahnya , keterangan dokter dan keluarga yg merawatnya , ktp , sim dll. juga mirip dengan operasi Densus 88 dalam melacak dan mengusut anggota teroris ).

Perlu diketahui masalah di OHD Museum sebenarnya simple dan tidak perlu lahir PPSI jikalau OHD mau membuka identitas atau dg kata lain menerangkan provenance lukisan yg dipamerkan dan yg diragukan tsb . Ternyata OHD tidak berkenan , itu saja . 

Selang waktu justru PPSI membuat buku berjudul JEJAK LUKISAN PALSU INDONESIA tetapi menyisipkan lukisan old master ( koleksi ketua umum, ketua penasehat, pengurus PPSI dan donatur pembuatan buku ) YANG TIDAK MEMILIKI DATA PROVENIENCE PULA , ini yg membuat saya dan kawan kawan kurator jadi meradang , sepihak kalian meragukan lukisan old masternya OHD Museum , NAMUN kalian melakukan hal yg sama dan serupa, ambigu bingit elo dan ente ini.
Mengingat para old master wafatnya masih dlm kurun waktu  30 tahunan , jadi apa sih sulitnya mengurut provenance lukisan tsb. Kalau pun ada beberapa infonya lobang tidak nyambung , masih bisa disupport dari pembuktian yg lain , contoh test forensik , ulasan para ahli setidaknya 5 orang ) pada estetik visual yg menghasilkan " roso / geget / getaran / blink " , estetika pada riwayat eksplorasi dan karakter personal sang seniman. Dan ini membutuhkan keseriusan dan ketekunan pemilik lukisan ( atau diserahkan kelembaga macam museum old master yg kredibel , sayangnya yg kridibel ini di INDONESIA BELUM ADA ). 

Menurut saya ,  suara pembenaran ( penilaian ) asli atau aseliut ( palsu ) sebuah lukisan old master tidak bisa dikatakan (diklaim ) oleh pemiliknya. SeHarusnya oleh lembaga penelitian karya old master  yg kridibel , karena mereka adalah tim kerja yg profesional , indepeden dan dedikatif.  
Seperti kita ketahui kejadian akal mengakali provenance yang kerap dilakukan oleh art dealer – broker tersebut bukan hal yang baru di dunia pasar seni rupa . TETAPI saya percaya dg tekad menelusuri yang membaja ( dg kecermatan tinggi ) satu persatu dirunut dari awal maka akan terkuak bodongnya , kejahatan pasti meninggalkan satu dua belang / jejak yg belum sempat tertutupi . 
Asli atau aseliut ( palsu ) tergantung kevalidan provenancenya.

2. UANG MENDENDANGKAN KEBOHONGAN 

Selalu saja dimana saja di Indonesia ini mereka art broker , art dealer bahkan pedagang akan berkilah :  Buat apa atau tidak penting atau bisa dinomer duakan provenance itu .  
MENGAPA MEREKA BERBUAT BEGITU ? Karena barang mereka tidak memiliki keotentikan runut asal usul atau asal dari YG HARUS DIEMPUNYAI pada SETIAP KARYA SENI OLD MASTER . 
Selain itu mereka berperisai dg klaim " aku sangat mengerti karena mendalami total loh , kan sudah sekian puluh tahun mempelajari " , lebih lucu lagi ada yg gembar gembor " Jam terbangku cukup  " . 

Siapa pun yg berkiprah di pasar seni rupa lokal maupun internasional mengetahui dg baik bahwa utk membeli lukisan old master yg harganya selangit harus mendapatkan data authentic Provenance lukisan atau karya seni tsb. Selain itu lulus pengamatan estetik peminatnya  ( atau konsultannya ) dan pengetahuan pada estetika senimannya . 

Apabila peminat hanya mengandalkan pengalaman estetik visual yg melahirkan blink, geget, getaran atau roso SEMATA , kalau tidak didampingi pengetahuan estetika pada riwayat eksplorasi dan karakter personal sang old master juga dilengkapi VALIDITY PROVENANCE atas karya seni tsb. maka jangan heran kalau banyak dari mereka telah menjadi korban barang palsu . 
Biasanya buyer Di PASAR ( art dealer / broker , pedagang ) yg terkecoh akan mencari mangsa utk estafet penderitaannya , dg alasan aneka macam utk mengecilkan arti provenance itu sendiri.


Ah sudahlah ...

Tuesday, October 28, 2014

PPSI MEMBUNGKUS RISIKO

PPSI MEMBUNGKUS RISIKO
Oleh : hendrotan
29 Oktober 2014, jam 13.30


Ditahun 2006 , seorang kolektor Inggris ,melelang koleksi lukisannya yg berjudul THE CARDSHARPS ke SOTHEBY'S , lukisan abad ke 15 konon adalah karya agung seniman Italy Caravaggio , karya tsb oleh auction house SOTHEBY'S dinyatakan atau dikatagorikan LUKISAN PALSU , dan terjual lelang diharga 42 ribu pound sterling .
Menurut SOTHEBY'S , mereka telah mendapat konfirmasi dari balai penelitian khusus , kurator dan para ahlinya , yg mana lukisan tsb mirip dg lukisan koleksinya galeri Kambly diTexas Amrik . berakhir dinyatakan sebagai lukisan tiruan yang dilakukan oleh murid Caravaggio .

Kemudian pemenang lelang -- kolektor Inggris pula yg menelusuri ulang dg ulet dan cermat mendapat pengakuhan dari yg berkompetensi bahwa lukisan tsb ASLI dan bernilai harga pasar 10 juta pound sterling .
Meledaklah amarahnya kolektor penjual dan mengajukan gugatan dan tuntutan kepada auction house SOTHEBY'S .

MEMBACA CERITA INI , SAYA TERINGAT KOLEKSI LUKISAN OLD MASTER DI MUSEUM OHD MAGELANG YANG DIRAGUKAN BAHKAN DIKATAKAN PALSU OLEH PPSI , KALAU SATU HARI MUSEUM OHD BISA MEMBUKTIKAN KEASLIAN LUKISAN TSB. MAKA SIAP SIAPLAH PPSI DIGUGAT DAN DITUNTUT OLEH MUSEUM OHD .
KIRANYA PPSI AKAN MEMBUNGKUS RISIKO BERLAMA LAMA, BUKANKAH BEGITU ?


----------  00  ----------

Sunday, May 18, 2014

PPSI ITU SEKUMPULAN ORANG IDEALIS ATAU MUNAFIK ?


PPSI ITU SEKUMPULAN ORANG IDEALIS ATAU MUNAFIK ?

Tulisan ini telah diposting pada tgl. 8 Juli 2013 dengan tema : 
PPSI, OHD dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia  
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


PPSI, OHD dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia   
Oleh: hendrotan

Ketika kamu berhadapan dengan musuhmu,
taklukkan mereka dengan cinta- Mahatma Gandhi

Sejak April 2012 awan hitam –– baca gonjang-ganjing lukisan yang diragukan keasliannya ( ? ) karya para maestro Hendra Gunawan, S.Sudjojono dan Soedibio koleksi MUSEUM OHD Magelang –– yang menggelayut di atas langit seni rupa Indonesia belum juga beranjak pergi. Bahkan sekelompok kolektor, art broker, pemain pasar dan pemerhati senirupa yang berhimpun dalam wadah PPSI ( Perkumpulan Pecinta Seni rupa Indonesia ), yang lahir di tengah suasana awan hitam itu, mencoba terus mengawal agar terkuak  ”kebenaran” di baliknya atau setidaknya mereka ingin mengabdikan diri pada tanah air dengan meletakan peradaban seni rupa Indonesia ditempat yang benar dan mereka berani berkata ”tidak” bagi lukisan maestro yang palsu.

Sebagai pemilik galeri, memang saya pribadi meragukan keaslian beberapa lukisan maestro koleksi OHD Museum, seperti yang tergambar di dalam buku pameran museumnya. Sikap saya ini secara gamblang sudah saya kemukakan dalam tulisan “Buruk Rupa Seni Rupa Indonesia” di Majalah Visual Arts edisi September–Oktober 2012.

Namun bagi saya OHD (Oei Hong Djien) tetaplah sang pecinta seni rupa Indonesia kelas wahid yang pernah berjasa sebagai penggerak pasar seni rupa Indonesia di dalam negeri dan Asia Tenggara. Betapa pun dia telah melakukan keteledoran yang fatal, sehingga mencoreng nama baiknya sebagai kolektor seni nomor satu di Asia Tenggara, karena hingga saat ini dia tidak mau membeberkan provenance –– catatan atau urutan rinci tentang sumber asal pembeliannya atau riwayat karya sampai ketangannya –– dalam hal ini provenance lukisan Hendra Gunawan , S.Sudjojono dan Soedibio yang diragukan itu.

Dengan demikian, dalam menyikapi kasus OHD tersebut, saya kira kita tidak hanya pantas meragukan beberapa persoalan berikut ini. Pertama, dari segi estetika ( rasa ) dan sudut pandang artistik kekhasan goresan pada lukisan yang diragukan terlihat tidak sesuai atau ada kelainan yang terkesan aneh, juga dalam hal warna tampak jauh dari kematangan. Semua ini berdasarkan perbandingan dengan lukisan–lukisan semasa karya para maestro tersebut yang terdapat dalam koleksi Taman Budaya Denpasar (art center), koleksi Museum Sejarah Jakarta, beberapa koleksi Ciputra, satu koleksi Jusuf Wanandi, dan tidak banyak (sedikit sekali ) berada di rumah para kolektor terpercaya lainnya. Kedua, ketidakwajaran ukuran dan bahannya, mengingat kelangkaan material lukisan pada masa itu.
                                                                                                                                                                     
Bahkan lebih dari substansi keraguan itu, demi kepentingan senirupa Indonesia PPSI sebagai lembaga sebaiknya mengajak Oei Hong Djien bersedia duduk bersama, dan melakukan penelitian seksama pada keraguan tersebut. Dihadapan masyarakat senirupa Indonesia tidak boleh ada orang atau lembaga –– sekali pun OHD Museum –– yang merasa memiliki privilese enggan menerangkan asal usul lukisan tersebut, walau dengan alasan apa pun.

Dengan keraguan–keraguan itu sudah sewajarnya kita bersikap kritis yang konsisten, memiliki kepercayaan diri yang kompeten. Dan sehubungan dengan penerbitan buku PPSI ini, maka buku tersebut seharusnya menjadi kumpulan catatan atau penampung beda pendapat yang kritis dan bermutu agar memberi peran dan semacam ”matahari” dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dan bukan asal menampang konsensus penggalangan kecemburuan serta penonjolan ego / syahwat narsis para pihak yang anti OHD, sebab hal itu tidak akan menemukan kebenaran, bahkan sebaliknya hanya mencederai rasa keadilan khalayak seni di Indonesia, khususnya di Magelang dan sebagian di Jogjakarta. Disinilah kebijakan dan  keteladanan PPSI diam-diam diuji.
                                                                                                                                         
Karena itulah jika buku ini merupakan upaya ke arah sikap kritis yang dapat mencerahkan atau mencerdaskan masyarakat senirupa Indonesia, maka setiap orang atau pihak yang terlibat dalam penerbitan harus siap membuka diri dengan dialog atau berkomunikasi. Lebih jauh dari itu, sudah barang tentu, kalau kita berani mengkritik, maka siapkan diri juga untuk dikritik; kalau kita gencar menuntut OHD ”buka kartu”, maka sudah seharusnya pula ( kita pun ) para art dealer ( broker ) atau pihak balai lelang berani ” buka kartu ”, termasuk kolektor / investor yang jadi korban para broker pun mau buka mulut, khususnya saat menerima pertanyaan hingga teguran pada autentisitas berikut provenance karya-karya pelukis maestro lainnya. Sebutlah, misalnya, sebagian lukisan Nashar yang termaktub dalam buku yang diterbitkan oleh ASPI dan editor Agus Dermawan T. disponsori hendrotan, juga beberapa lukisan pada buku Lee Man Fong dan buku Affandi yang terbitan sebelum prahara OHD Museum maupun ( banyak ) lukisan maestro yang pernah dijual belikan secara private sale atau pelelangan di pelbagai acara auction house.

Saya ingin berkata, alangkah mulia bila PPSI dan orang-orang yang ingin melibatkan diri ”bersih-bersih”, mereka mau ”buka kartu” kepada masyarakat, dengan memberikan data dan penjelasan bagaimana / darimana riwayat karya maestro koleksinya. Di negeri ini, sering kali kita melihat, bagaimana orang-orang getol sekali membersihkan ”kotoran” dengan ”lap yang kotor”. Dan lap kotor itu kalau dirunut, berasal dari tangan yang kotor pula; Itu sebabnya, ”kotoran-kotoran” Indonesia, sampai hari ini sulit diberantas.

Kembali ke kasus OHD yang dipersoalkan dalam buku yang akan diterbitkan tersebut, ini menjadikan sebuah pelajaran yang tak kalah  penting, betapa dunia seni rupa Indonesia hari ini sangat membutuhkan catatan sejarah yang jujur, buku-buku sejarah seni rupa yang lengkap, yang deretan perupa / seniman dan karya kanonnya disetujui bersama oleh para kurator dan tokoh akademisi yang kredibel. Disini kita bisa mempertanyakan sejauh mana peran serta lembaga perguruan tinggi seni, misalnya ISI, ITB, IKJ dan lain-lain yang selama ini bertanggungjawab mendidik dan melahirkan para peneliti, hingga pemikir seni.

Selain itu juga diperlukan keberadaan laboratorium penelitian seni rupa yang modern dan canggih. Yang hasil analisisnya tidak tergantung pada jari telunjuk atau ibu jari atau mulut kotornya broker dan team penilai balai lelang, tapi pada analisis ilmiah atau kajian kritis yang independen dan dilakukan oleh para ahli yang lulusan perguruan tinggi S2 dan S3 di Indonesia atau pun di negara bule disertai ragam reputasinya. Kita berharap PPSI mau dan mampu melakukan tugas mulia ini demi kecintaannya pada ibu pertiwi, karena itu PPSI akan menjadi pejuang yang luhur bagi seni rupa Indonesia di setiap langkah yang ia tempuh. Perlu dicamkan bahwa sungguh tidak diharapkan keberadaan PPSI jika hanya untuk kasusnya MUSEUM OHD. 
     
Di penghujung kata, semoga dengan terbitnya buku PPSI ini, selain dapat mengusir  awan hitam yang tumpuk menumpuk membujur di cakrawala senirupa Indonesia, juga dapat menguak kebenaran di baliknya. Kalau pun tidak berhasil menguak kebenaran, niscaya telah memberi pembelajaran kebenaran itu sendiri, buku ini akan menjadi dentingan genta yang tak berjeda menggema di benak siapa pun pelaku seni rupa Indonesia. Pesan Mahatma Gandhi diawal tulisan ini patut kita jiwai bersama. Sebagai pelengkap satu lagi pesan Gandhi yang baik untuk kita renungkan adalah, ” Kesalahan tidak akan menjadi kebenaran walau berulang kali diumumkan. Sebaliknya, kebenaran tidak akan jadi kesalahan walau tak seorang pun mengetahuinya ” , dan ini kata filsuf Sun tze ” Kebenaran takkan dapat disatukan dengan kesalahan, walau itu sekadar kealpaan.”  

Bumi Surabaya, 08 Juli 2013. Jam 18.30



----------------------oOo-----------------------



PPSI, OHD and the Future of Indonesian Art   
By: hendrotan

Whenever you are confronted with an opponent, conquer him with love - Mahatma Gandhi

Since April 2012 the black clouds –– the disturbance over some paintings by Indonesian master painters Hendra Gunawan, S. Sudjojono, and Soedibio in the OHD Museum’s collections in Magelang –– haven’t left the sky of Indonesian art yet. A number of art collectors, art broker, market player and observers even grouped together in an organization called PPSI (Perkumpulan Pecinta Seni rupa Indonesia, meaning literally ”Association of Indonesian Art Lovers”), which was born amid the atmosphere of disturbance, keep trying to guard the process of uncovering the ”truth” about the matter, or at least they intend to serve the country by positioning Indonesian ”civilization” concerning art on its proper place, and they dare to say ”no” to faked maestro pieces.

Personally I as a gallery owner doubt the authenticity of some maestro paintings in the collections of OHD Museum as found in an exhibition book of the Museum. I have already stated this position clearly in my essay “The Ugly Face of Indonesian Art” in Visual Arts Magazine of the September–October 2012 edition.

Yet for me OHD (Oei Hong Djien) remains a most important lover of Indonesian art with his great contribution of activating the market for Indonesian art at home and in Southeast Asia. This is despite his blunder, blemishing his good name as a number one art collector in Southeast Asia, of not letting us access the provenance of the paintings said to be by Hendra Gunawan, S. Sudjojono and Soedibio the authenticity of which is doubted.

Regarding this case of OHD I think we do not only have reasonable doubts about the following. First, in aesthetic and artistic aspects the characters of the brushing and scratching of the paintings seem inconsistent or strangely different while the coloring gives the impression of grave immaturity. I make this remark on the basis of comparison between the works concerned and the typical works of the master painters in corresponding periods kept in the collections of Denpasar Art Center, Jakarta Museum of History, Ciputra, Jusuf Wanandi, and, in a very small number, in the homes of other credible collectors. Second, the sizes and materials for making the paintings are questionable considering the scarcity of such materials back then.
                                                                                                                                                                   
Even more important than the doubts per se, for the interest of Indonesian art the PPSI organization should invite Oei Hong Djien to sit together and make joint investigation into the doubted matters. Before the Indonesian art community not any person and not any institution – not even OHD Museum – may feel, for whatever reasons, to have the privilege of not giving explanation about where those paintings come from.

Being uncertain, it is only natural that we become consistently critical and competently confident at the same time. And in connection with the publication of a book by PPSI, it should represent a collection of notes and critical, reasoned disagreements so that the book may take the role of ”the sun” with respect to he history of Indonesian art instead of just being a means to show off shared envy and grudges as well as narcissistic tendency of those who are against OHD. In the latter case, instead of discovering and upholding what’s true, we would only hurt the sense of justice on the part of Indonesian art stakeholders in Magelang particularly and to some extent in Jogjakarta. Here lies a test of PPSI’s wisdom and exemplarity.
                                                                                                                                         
So if the book represents attempts to develop a critical perspective that may enlighten to open Indonesian art stakeholders everyone and every party involved in the publication ought to be ready to open his/her mind through dialogues or to really communicate. Furthermore, naturally, if we dare to criticize others we ought to be ready to be criticized; if we insistently ask OHD to ”lay his cards on the table”, we too, art dealers (brokers) or auction houses have to dare to do the same and collectors/investors falling victims to certain brokers ought to speak up, particularly when asked or reproached about the authenticity and provenance of other works of maestros. Say, for example, some of Nashar’s works published in a book by ASPI, edited Agus Dermawan T. and sponsored by hendrotan, and some paintings in books on Lee Man Fong and Affandi prior to the OHD Museum as well as (a lot of) other maestros ever sold and bought in private sales and auctions in various events at auction houses.

I want to say how estimable it will be if PPSI and those who intend to take part in the ”clean-up” are willing to ”lay down their cards on the table” for all to see by giving relevant data and explanation about the acquirement of the maestros in their collections. Here in this country we very frequently how people very eagerly try to clean up things from ”dirt” by using ”dirty dusters. And in turn the dirty dusters are provided by dirty hands too. That’s why until today it’s been hard to clean up Indonesia from ”dirt”.

Back to the case of OHD, what is discussed in the book to publish will give us an important lesson of how the world of Indonesian art today badly needs historical notes that are honest and comprehensive art history books that contain names of artists along with their canon works justified by credible curators and academic figures. At this point we may ask questions about the supposed roles of higher learning institutions for the arts such as ISI (Indonesian Institute of the Arts), ITB (Bandung Institute of Technology), and IKJ (Jakarta Arts Institute) responsible for educating and producing researchers and thinkers of the arts.

We also need modern and sophisticated laboratories to support studies and research in art. Then results of studies and analyses shall not depend on the index fingers, thumbs and assessment teams that work for auction houses. Instead, they’ll be the outcomes of independent academic analyses and critical studies done by reputable experts holding the master or even doctorate degree acquired from universities at home or abroad. Let’s hope that PPSI association will be willing and able to carry out such honorable task in the name of love for the country, based on which PPSI will be ever heroically championing Indonesian art in every step it takes. It needs to be borne well in mind that the association’s raison d’être should not be just the OHD Museum case.

Closing this note, I hope that the publication of PPSI book could remove the black clouds piling over the horizon of Indonesian art thus revealing the truth hidden as yet. Otherwise, it may at least introduce points to learn about truths to seek and in this regard the book may represent the unbroken tolling of a bell to echo in the head of anyone actively involved in Indonesian art. It will be good for us to internalize Mahatma Gandhi’s message I quote in opening this essay. As a complement here is again a quote from Gandhi: ”An error does not become truth by reason of multiplied propagation, nor does truth become error because nobody sees it" while the philosopher Sun tzu says that  truth cannot be integrated with falseness even if it is just a mistake.” 

Bumi Surabaya, 08 Juli 2013. Jam 18.30

Saturday, May 10, 2014

BUKU ZEBRA ?

BUKU ZEBRA ?
-----------------------
Oleh hendrotan
Tgl. 10 Mei 2014, jam 15.15

YG berkompetensi menentukan ASLI sebuah lukisan OLD MASTER INDONESIA itu siapa sebenarnya ?

Kalau jawabannya boleh sesama pedagang atau pemain pasar atau investor atau kolektor bahkan Art broker dengan reputasinya yang meragukan mejudgement keaslian lukisan old master tersebut, pertanyaan besarnya adalah : Seni Rupa Indonesia mau dibawa kemana ?. Sungguh dikhawatirkan demi kepentingan pasar akan mewujudkan kesalahan ulang alik yang semakin mengkristal saja dan itu akan mencederai Seni Rupa Indonesia.

Dicontohkan :

Pedagang “Kucing Hitam” membuat buku old master Indonesia dengan karya lukisannya, kemudian dibantah oleh sekumpulan pedagang “Zebra” dengan menerbitkan buku serupa ( lukisan berbeda ) dan demikian seterusnya.

Didalam hal ini sepertinya para intelektual atau pemangku kepentingan Seni Rupa Indonesia dari Dosen, Kurator, Kritikus, Seniman dan Pengamat seni jauh jauh hari sudah mengambil sikap diam dan menjaga jarak, karena mereka mengira ( memperkirakan ) ini merupakan perebutan eksistensi antar pedagang untuk kepentingan modal ekonomi* mereka sendiri.

Kalau mau bicara mengenai idealisme atau kewarasan berlogika Kan seharusnya yang berkompeten memutuskan ASLI sebuah karya lukis old master adalah Lembaga Penelitian Karya Old Master Indonesia yang kredibel, bukankah begitu ?

Tidak ada ucapan selamat bagimu pedagang “ Zebra “.

Sekian saja.



* Penjelasan modal ekonomi :
 
   Harga sebuah lukisan Old Master S. Sudjojono ukuran sedang, baru baru ini terjual di Balai  
   Lelang  Sotheby’s  seharga + 80 Milyard. Sedangkan rekor pasar di balai lelang untuk lukisan
   Lee Man Fong ukuran sedang, terjual seharga + 60 Milyard.

Saturday, August 24, 2013

PAGES FROM A DIARY / SOBEKAN BUKU HARIAN

PAGES FROM A DIARY
Thursday night, 8th of August 2013

By hendrotan



IN ADDITION TO BEING UNQUALIFIED, ARTIST MANAGERS WE HAVE ARE ALSO TOO PRAGMATIC AND OPPORTUNISTIC. THEY HAVE TAKEN THEIR TO JUST ART MARKET WITHOUT TRYING TO BRING THEM TO ART PROJECTS, BIENNALES AND MUSEUMS THAT REFLECT SIGNIFICANT ACTIVITIES AND MOVEMENTS IN INTERNATIONAL ART. WHY?

Lately Indonesian art market has been upset by some artist managers who tend to deceive collectors and investors in this country the rich and super-rich ones in particular.

The story begins with three Manager Artists and an EO-cum-artist manager having a meeting in a closed room, holding each other tight, and lamenting the crumbling market of contemporary art. They talk, share opinions and they realize well that the works of their artists already in the hands of numerous collectors and investors since before the 2007 boom when prices were low and through the times of wildly rocketing prices after 2007. And these four people previously sad and worried seem to find resolution 4 hours later – a sort of magic shortcut or breakthrough. So they happily and expectantly make the conclusion that if exhibition prices in Singapore and Hong Kong Art Fairs are set very high for jummy-sized works, and stated as sold, it is expected that it shall please collectors and investors having in their stock the works of those concerned. Then those collectors and investors will have more confidence that the auction houses in Hong Kong and Singapore will always accept the works of their artists into the prestigious lots of auctions to come.

Now what’s left to do is elaborating the main stratagem for the Art Fair, inventing names of “made-up” buyers and making everything sound reasonable at once untraceable. Well, why not borrowing the names of certain close relatives living in New York, London, Hong Kong, Taipei, Tokyo, Kuala Lumpur, and even, if necessary, just say that the buyers are White or Japanese collectors who do not want their names revealed.

Then in the next auction they will prepare money for the buying back coupled with transactions (artificial and neatly done) at private sale market in order to revitalize the market for their established artists just like dyeing old shabby clothes anew.

Made-up market prices are achieved by three ways: Exhibition sale (at the art fair), Auction sale (at the auction) and Private sale (direct transaction involving artists, managers, art dealers, art galleries outside exhibitions, and perhaps brokers). We may ask whether such stratagems will really work as they expect. I think in the past, before 2007, they would work almost perfectly. Yet today, as all information about art market is becoming ever transparent, collectors, investors down to their children and grandchildren can easily access relevant information about art market and discourses on art and its market through online media and social network, making use of various references available there, portals or online sources such as Wikipedia or Encyclopedia.com as well as blogs, facebook, twitter, foursquare, instagram, flickr, linkedin, tumblr, and raddit. So it is predictable that such stratagems of theirs will meet with total failure.

The failure represents the tip of an iceberg with the main root digs into a crisis in managerial mindset potentially destructive to the artists concerned. Why? For what reason? In my opinion the most basic reason is that the three artist managers plus one EO have committed an act of levity.  They take it lightly the action of setting artificial price rates for their artists’ works without considering that collectors and investors are getting increasingly critical and sharp. They –– collectors and investors –– actively take part in art talks on art market in community circles initiated by art observers and critics so it is easy to predict that eventually what those artist managers and EO expect will not come true. The point is: It will harm the artists who entrust themselves totally to those managers and the EO; the artists’ names and repute can even vanish with no trace from Indonesian art market and its entire zones as if swallowed suddenly by a sinkhole – their future will simply disappear.

But those involved often defend themselves, and some of their curator partners defend them too on the basis of the argument that “market mechanism and its dynamic require stratagems and tactics”. In making such excuse what’s reflected is the sinking of the awareness that a manager is a professional representative supposed to have ethical sensitivity and extrinsic as well as intrinsic dignity with respect to profession accredited and trusted by the Indonesian art world.

Moreover, those artist managers and the double-functioned EO are part of a circle of business people and economists of artwork commodity who should transmit positive signals that may reinforce market’s trust instead of intensifying deceit trickily labeled as device or tactic.

At this point is there still anyone asking the question: if ‘this’ is not right and ‘that’   is also not right, then ... what’s the right thing to do? Or: what should the three artist managers and one double-function EO do? The answer can be found in the next note from the diary.


––––––    o   ––––––
  
Tuesday, 13th of August 2013

IN THE CURRENT ERA OF OPEN INFORMATION THANKS TO SOPHISTICATED INFORMATICS AND TELECOMMUNICATIONS ART COLLECTORS AND INVESTORS IN ART PRODUCTS ARE INCREASINGLY CAUTIOUS AND INSIGHTFUL. THEY BECOME MORE AND MORE RELUCTANT TO SPEND THEIR MONEY OR INVEST THEIR FUND     ON AND IN WORKS OF ESTABLISHED ARTISTS WHO ARE NOT YET RECOGNIZED BY MAJOR ART PROJECTS, BIENNALES OR MUSEUMS ICONIC FOR DEVELOPMENTS IN INTERNATIONAL ART. ESTABLISHED ARTISTS PREVIOUSLY GETTING CONFIRMATION FROM JUST THE ART MARKET WILL BE ILL FATED, i.e. THEY’LL BE IGNORED BY A NEW ERA FILLED WITH MASSIVE INSIGHT.

On the rocketing price of artwork in international market I don’t share the opinion of our artist managers who remain controversial till today. To my observation there are “more significant” issues behind the rocketing price, which implies that market mechanism is not the one and only factor.

Those “more significant issues” are inseparable from the formation of a social system in the international art world that necessitates artists to participate in, or to ever strive to be among invitees to “major” Art projects¹, Biennales and Museums² in various international events in art such as the Venice Biennale (Giardini), Sao Paulo Biennale, Documenta, MoMA museum, Guggenheim Museum, Kunst Museum, and Tate Modern Art Museum. Because the curatorial teams of such Art projects, Biennales and Museums consist of prominent senior intellectuals comprising critics, writers, journalists, museum directors and curators with indubitable reputes and credible authority in the realm of art and culture, the names, standings and reputations of artists consistently invited to such events will increase to respected positions in the international art discourse.

In accordance with it trust in the artists’ standings and reputations will affect market, and their works will be eagerly hunted by international collectors and business people so that the rocketing prices of their works are predictable and expected. This rise in price can be assumed to spring from trust in the intrinsic values of works acknowledged by respectable institutions. In turn the acceptance by those institutions levers the economic values of the works; people then believe in those values as well as the control over the belief.

It is obvious and warranted that an artist’s degree of artistry, reputation and image as acknowledged by international art community do make up a factor. So we can conclude that the rise of the nominal value of artwork rests on its intrinsic value that is impressive as demonstrated and elucidated in art project, biennale and museum exhibitions that represent major international art events. For established artists we now have this is the only thing that matters, not to say the only possible solution. This should actually be in the credo of our established artists in pursuing their road of glory.

Here I have already made the statement that the belief that the price of artwork and its rises can be controlled through market devices and tactics is very wrong. And I want to answer some market people who say that that currently the art fair levels the importance and influence of art projects and biennales that such opinion of theirs is not only mistaken     but also misleading because the effects of discourse will not be the same with those of the actual market.

Art projects and biennales expose artworks on the basis of artists’ advanced thinking coupled with exploration/elaboration of the elements and mystery of art as driven by some intrinsic and perhaps iconic motivation (but not for selling and buying). As for the art fair or art market, it is where to offer artworks, at least trendy ones of them in a given period, as items for sale; its energetic activation is extrinsic to artworks per se and appreciation- and profit-oriented.

To quote Jim Supangkat, “In the modern perspective, fundamental things concerning the values of art are related with the conception of the connection between the human being and reality according to subject-object relationship. Here the subject is the human being, namely a thinking being that has power, and the object is the material aspect of reality over which the subject has power. Artworks are objects but they are not ordinary ones. Artworks are objects that contain the subject-as-manifested in the forms of artworks as tokens of human’s power – which causes artworks to be like objects having their own lives. These “lives” are the intrinsic values of works of art. 

From that point of view since the early 20th century, modern thoughts on art – art criticism, theories of art and historical studies on art – which have been explicated and transmitted through massive publication (reaching millions of book titles) confirm the weight of the intrinsic values of artworks. As museums assess the nominal values of their artwork collections the weight of their intrinsic values make their nominal values high. Therefore it has been since the early twentieth century, the prices of artworks, particularly those in museum collections, have been high”. I find here Jim Supangkat drawing logical conclusions and offering them consistently, systematically and very remarkably.

Now I’d like to answer the question on what art managers and double-function EOs should desirably do. Please be good initiators. And please be willing to usher your established artists to the scenes of ”major” art projects, biennales and museums that are markers of developments in international art. Artist managers should have positive extrinsic motivations that involve professional and ethical performance in attaining goals. Please don’t just immerse yourselves in the pool of market only because the water in that pool is sometimes clear and refreshing but oftentimes murky and deadly like the East Java Porong-Lapindo mudflow.

Having described all the above, what is the heart of all the problems and wrongs? According to Freud, basically humans have the aggressive or death instinct; so the missing proper Indonesian art infrastructure as yet drives our artist managers to shamelessly indulge in greediness – they are but willing and eager to gulp anyone as a victim.

I still remember these interesting and wise words of someone I fail to recall, “It’s not the identity but the deeds distinguish someone”.



––––––    o   ––––––



Notes

1.   An art project or biennale involves exhibiting that’s not in order to sell things
2.   Museum, for exhibiting works not for selling them


24 August 2013. 14.20 PM



----------------------------------------------------

SOBEKAN BUKU HARIAN
Kamis, tgl. 8 Agustus 2013
 
Oleh : hendrotan


ARTIST MANAGER KITA SELAIN TIDAK BERMUTU JUGA PRAGMATIS DAN OPORTUNIS SAJA, SELAMA INI MEREKA MEMBAWA PERUPA MAPANNYA KE MEDAN PASAR SENIRUPA BELAKA, TANPA BERUPAYA MENGANTAR KE ART PROJECT, BIENNALE DAN MUSEUM YANG MENJADI PETANDA GELIAT SENIRUPA INTERNASIONAL .  MENGAPA ?

Akhir akhir ini, pasar senirupa Indonesia dihebohkan perilaku beberapa artist manager yang berkecenderungan membodohi para kolektor dan investor negeri ini, khususnya bagi mereka yang berlevel kaya dan super kaya.

Ceriteranya bermula ketika tiga sosok Manager Artist dan seorang EO ( yang merangkap profesi sebagai manager artist ) berkumpul diruang tertutup dan saling berpelukan erat terharu biru mengeluhkan pasar senirupa kontemporer yang semakin terpuruk, dari percakapan saling silang pendapat, maka terpikir bahwa karya artis mereka sudah menyebar ditangan kolektor dan investor, sejak diharga rendah sebelum booming tahun 2007 hingga diharga yang menggila setelah tahun 2007. Dan empat orang yang tadinya gundah gulana –– berselang empat jam kemudian, sepertinya telah mendapatkan solusi – jalan pintas / terobosan, maka dengan semringah berbunga – bunga melumerlah jadi satu kesimpulan dan keyakinan, bila harga pameran di arena Art Fair Singapore dan Hongkong dinaikkan setinggi langit dengan ukuran karya yang Jummy ( tinggi dan besar ) dan dinyatakan terjual, maka diduga akan berimplikasi – pasti pada para kolektor dan investor pemegang stock ( karya ) sehingga membuat mereka riang gembira atau mensyukuri, apalagi akan dapat mengukuhkan kepercayaan pada balai lelang di Hongkong dan Singapore untuk selalu menerima karya artisnya sebagai agenda lot terhormat dipelelangan berikutnya.

Tinggal menyempurnakan pokok siasatnya di Art Fair, bagaimana membuat nama pembeli “ jadi – jadian “ itu agar bernalar, juga tidak terlacak, ya pakai saja nama kerabat dekatnya sebagai pembeli yang bermukim di New York, London, Hongkong, Taipe, Tokyo, Kuala Lumpur, bahkan kalau perlu bilang saja buyernya si Bule atau si Nippon yang mewanti – wanti ( berpesan ) agar tidak menyebut namanya.

Kemudian pada lelang yang akan datang mereka akan mempersiapkan dana untuk buy back dibarengi tindakan dipasar privat sale melakukan transaksi bodong – badang ( bohong – bohongan yang rapi ) agar pasar karya artis mapan mereka jadi ramai kembali, seperti mewantex baju lusuh yang sudah rapuh.

Gabungan rekayasa harga pasar dengan jurus tiga paket : Exhibition sale ( di art fair ), Auction sale ( dipelelangan ) dan Privat(e) sale ( jual beli langsung yang dilakukan oleh artist manager, art dealer, galeri diluar masa pameran, bisa juga lewat perantara ) tersebut. Dapat dipertanyakan APAKAH siasat atau taktik mereka akan membuahkan keberhasilan yang diharap ? menurut saya, kalau dulu sebelum tahun 2007 –– siasat ini akan berhasil mulus diangka 9 sampai dengan 10, namun dengan bergesernya waktu semua info di lini pasar seni(rupa) menjadi transparan, maka kolektor, investor berikut anak cucunya dengan mudah dapat membuka akses informasi pasar seni dan wacananya dari info online dan media sosial ( social network ) berpedoman pada media referensi atau portal atau kamus besar online semisal wikipedia atau encyclopedia.com berikut Blog, Facebook, Twitter, foursquare, instagram, flickr, linkedin, tumblr, raddit dan lain lain. Karena itu sudah dapat diprediksi siasat mereka akan tersandung dan gagal total.

Kegagalan ini merupakan puncak dari gunung es yang pada akar tunjangnya menjalar kesatu krisis sikap managerial yang dapat merusak masa depan sang artis. Mengapa ? Apa alasannya ? Menurut saya penyebab yang paling mendasar adalah tiga artist manager dan si EO telah berperilaku levity –– sembrono dan ceroboh –– dengan menggampangkan pola rekayasa harga pasar karya artisnya, tidak memperhitungkan perubahan jaman, bahwa kenalaran berpikir para kolektor dan investor yang kian kritis dan semakin cerdas; ( mereka –– para kolektor dan investor –– kerap aktif mengikuti art talk about art market dikantong kantong yang diadakan oleh pengamat seni(rupa) atau galeri ), dari sini sudah dapat diperkirakan pada akhirnya akan berakibat apa yang diharapkan menjadi nihil saja, letak permasalahannya : ini akan mencelakakan sang artis yang mempercayakan dan menyerahkan diri kepada mereka –– artis manager atau EO –– bahkan nama dan reputasi artis akan terlupakan / lenyap tanpa bekas di medan pasar senirupa Indonesia berikut di seluruh wilayahnya seperti tiba tiba tertelan oleh simply sinkhole ( lubang besar dan dalam ), tamatlah masa depan artisnya.

Namun pihak – pihak bersangkutan kerap membela diri dan beberapa dibela oleh partner kuratornya dengan bersandar pada argumen “ mekanisme pasar dan dinamikanya membutuhkan siasat dan taktik ”, berdalih seperti itu, terpancar hilangnya kesadaran bahwa manager adalah representatif professional yang harus memiliki kepekaan etis dan nilai harkat ekstrinsik mau pun intrinsik terhadap profesi mulianya yang berakreditasi bahkan memiliki kredensi dari kehidupan masyarakat senirupa Indonesia.

Selain itu mereka si artist manager dan EO yang berfungsi ganda adalah bagian ( kalangan ) pelaku bisnis dan ekonom komoditas barang seni yang sudah seharusnya menyampaikan sinyal positif yang membangun kepercayaan pasar, bukan malah meningkatkan tipu daya dengan akal bulusnya meminjam kosa kata siasat atau taktik.

Sampai disini masih adakah yang akan bertanya, kalau begini salah, begitu pun masih salah, habis… yang betul bagaimana ? atau bagaimana sebaiknya langkah ketiga artist manager dan EO berfungsi ganda tersebut ? jawaban bisa dicatatan harian berikutnya.


––––––    o   ––––––

Selasa, tgl. 13 Agustus 2013

DI ERA KETERBUKAAN INFORMASI BERBASIS TEKNOLOGI YANG SERBA CANGGIH, KOLEKTOR DAN INVESTOR BARANG SENI(RUPA) SEMAKIN BERWASWAS DAN CERDAS SAJA, MEREKA KIAN SULIT MEMBELANJAKAN UANGNYA ATAU MENGINVESTASIKAN DANANYA UNTUK KARYA PERUPA MAPAN YANG BELUM MENDAPATKAN PENGAKUAN OLEH / DARI ART PROJECT ATAU BIENNALE ATAU MUSEUM YANG PENTING YANG MENJADI PETANDA GELIAT SENIRUPA INTERNASIONAL, PERUPA MAPAN YANG TADINYA MENDAPATKAN PENGUKUHANNYA SEKADAR DARI PASAR SENI(RUPA) AKAN MENGHADAPI NASIB BURUK = DIABAIKAN OLEH JAMAN BARU YANG TERISI KECERDASAN MASIF.

Mengenai lonjakan harga karya seni dipasar internasional, saya tidak setuju pada pendapat para manager artist kita yang sampai sekarang masih kontroversial itu. Dalam pengamatan saya ada persoalan yang “ lebih penting “ dibalik lonjakan harga karya seni yang menunjukkan bahwa mekanisme pasar bukan satu – satunya penyebab.

Persoalan yang “ lebih penting “ tidak bisa dilepas dari terbentuknya sistim sosial yang ada di medan senirupa internasional selama ini, maka perupa SEHARUSNYA mengikuti atau selalu berjuang agar dapat terundang berpameran di Art project ¹, Biennale dan Museum ² yang ” penting ” di pelbagai geliat senirupa internasional, semisal Venice Biennale ( Giardini ), Sao Paulo Biennale, Documenta, Museum MoMA, Guggenheim Museum, Kunst Museum, Tate Modern Art Museum. Dikarenakan tim kurator acara Art project, Biennale dan Museum tersebut terdiri dari para senior cendekia kondang, dari Kritikus, Penulis, Jurnalis, Direktur museum dan Kurator yang reputasi dan kredibilitasnya dibidang seni dan budaya tak teragukan lagi, maka nama, derajat berikut reputasi perupa yang selalu terundang diacara tersebut akan menyentuh tingkat terhormat dimedan wacana senirupa internasional.

Seturut itu, kepercayaan pada derajat dan reputasi perupa akan membias pada pasar dan karya perupa akan kencang diburu oleh kolektor dan kalangan pelaku bisnis internasional, maka lonjakan harga karyanya dipasar adalah hal yang sudah dapat terperkirakan dan diperhitungkan. Dan kenaikan harga ini bisa diasumsikan terjadi karena kepercayaan pada nilai intrinsik karya yang telah dapat pengakuan oleh lembaga yang terhormat dan berlanjut pada nilai ekonomi yang dipercaya oleh masyarakat berikut kontrolnya pada kepercayaan nilai nilai tersebut.

Adanya faktor mengenai kadar seni, reputasi dan citranya sang perupa telah mendapat pengakuan masyarakat senirupa Internasional sudah sangat jelas dan itu terjamin. Maka
kita bisa menyimpulkan kenaikan nilai nominal karya – karya seni bertumpu pada basis nilai karya seninya yang kuat dan terurai di / pada pameran Art project, Biennale dan Museum tersebut sebagai geliat senirupa internasional yang penting, itu merupakan satu satunya pertimbangan kalau tidak mau dikatakan satu satunya jalan keluar yang tidak bisa disangkal mau pun diabaikan lagi oleh perupa mapan kita. Inilah sesungguhnya kredo perupa mapan kita untuk menapak tujuan kemuliaan di / dalam berkesenian.

Dengan ini saya sudah berbicara bahwa optimisme yang percaya harga karya seni dan kenaikannya bisa dikendalikan melalui siasat dan taktik pasar atau mekanisme pasar adalah salah besar dan saya ingin menjawab pada sebagian orang pasar yang berujar sekarang art fair sudah setaraf pentingnya dan sebanding pengaruhnya dengan Art project atau Biennale, itu adalah keliru bahkan opini yang menyesatkan, karena pengaruh ranah wacana tidak akan sama dengan medan pasar.

Art project atau Biennale menghelat karya berlandasan pemikiran artis yang ke depan dengan penggalian / pengembangan elemen dan unsur misteri senirupa bermotivasi intrinsik dan bisa jadi yang ikoni ( namun tidak untuk dijual – belikan ), sedangkan art fair atau medan pasar adalah tempat menjajakan dagangan karya seni, setidaknya yang lagi trend dipasaran, aktivasi energiknya ekstrinsik berorientasi pada penghargaan dan keuntungan.

Mengutip tulisan Jim Supangkat, “ Dalam pemikiran modern hal mendasar pada nilai-nilai seni itu berkaitan dengan pemikiran tentang hubungan manusia dengan realitas mengikuti relasi subyek-obyek. Subyek di sini adalah manusia yaitu makhluk berpikir dan berkuasa, sementara obyek adalah aspek material pada realitas yang dikuasai subyek. Karya seni adalah obyek, namun bukan obyek biasa. Karya seni adalah obyek yang mengandung subyek–tampil pada karya seni sebagai tanda-tanda kekuasaan manusia–yang membuat karya seni menjadi seperti obyek yang bernyawa. “Nyawa” inilah nilai-nilai intrinsik karya seni.

Melalui pemahaman seperti itu sejak awal abad ke 20, pemikiran seni modern–kritik seni, teori-teori seni dan kajian sejarah seni–yang diuraikan melalui publikasi masif (mencapai jutaan judul buku) mengukuhkan bobot nilai-nilai intrinsik karya seni(rupa) itu. Ketika museum-museum menaksir nilai nominal koleksinya, bobot nilai intrinsik ini membuat nilai nominal karya seni menjadi tinggi. Maka sudah sejak awal abad ke 20, harga karya seni, khususnya koleksi museum, memang sudah tinggi.” Pengamatan saya, buah pikir Jim Supangkat disimpulkan secara logis dan disampaikan dengan runut dan bagus sekali.

Menjawab pada pertanyaan, sebaiknya langkah apa yang ditempuh oleh para artist manager atau EO yang berfungsi ganda. Jadilah inisiator yang baik. Dan mau mengantar perupa mapan anda hingga dapat berpameran di medan Art project, Biennale dan Museum yang “ penting “ yang menjadi petanda geliat senirupa internasional, artist manager harus bermotivasi ekstrinsik yang positif mengacu pada kinerja yang profesional dan beretika untuk mencapai hasilnya, janganlah berkecimpung di kolam pasar melulu, karena kolam pasar kadang berair jernih dan menyegarkan seperti banyu biru, namun kerap kali keruh dan mematikan bagai lumpur porong – lapindo.

Penguraian perihal tersebut bila dicari sumber masalah dan salahnya dimana ? ini teori Freud, pada dasarnya manusia berinsting agresif atau death instinct, karena itu tidak terbentuknya infrastruktur senirupa Indonesia yang benar dan baik telah menjadikan artist manager kita tanpa malu berlomba – lomba dengan ketamakannya, tanpa peduli siapa pun akan dimangsanya dengan lahap.

Saya masih ingat satu kalimat yang bijak dan menarik entah oleh siapa saya lupa, “ Bukan jati diri yang membedakan seseorang, namun perbuatannya “.




––––––    o   ––––––



Catatan kaki

1.      Art Project, atau Biennale berpameran tidak untuk berjualan
2.      Museum, berpameran tidak untuk berjualan




Tgl. 24 Agustus 2013, jam 14.20